Metafora Visual Kartun Editorial pada Surat Kabar Jakarta 1950-1957
Disertasi Doktor – Program Studi Ilmu Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung – Priyanto Sunarto: “Metafora Visual Kartun Editorial pada Surat Kabar Jakarta 1950-1957″.
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Kartun Editorial merupakan kolom gambar sindiran di media massa cetak yang mengomentari berita dan isu yang sedang ramai dibahas di masyarakat. Sebagai editorial visual, kartun tersebut mencerminkan kebijakan dan garis politik media yang memuatnya, sekaligus mencerminkan pula budaya komunikasi masyarakat masanya. Dalam mengungkap komentar, kartun menampilkan masalah tidak secara harfiah tetapi melalui metafora, agar terungkap makna yang tersirat di balik peristiwa. Metafora merupakan pengalihan sebuah simbol (topik) ke sistem simbol lain (kendaraan). Penggabungan dua makna kata / situasi menimbulkan konflik antara persamaan dan perbedaan, hingga terjadi perluasan makna menjadi makna baru. Dalam kartun editorial, metafora visual muncul pada aspek rupa dasar, pada bahasa tubuh, serta pada pengalihan objek dan situasi. Melalui metafora visual pada kartun editorial dapat diteliti situasi sosial dengan sikap emotif kartun.
Penelitian ini mengambil pilihan situasi masa demokrasi Parlementer di Indonesia (1950 – 1957) dengan tujuan memahami bagaimana metafora kartun editorial berelasi dengan situasi politik dan budaya. Berbeda dengan situasi politik pada masa Orde Lama maupun Orde Baru di mana media mendapat represi keras dari penguasa, periode Demokrasi Parlementer merupakan masa paling dinamis saat mana bangsa Indonesia mulai bereksprimen dengan demokrasi. Sistem parlementer multi partai dengan kekuatan berimbang memicu persaingan antar berbagai faksi politik untuk saling menjatuhkan. Hal itu terbaca melalui polemik terbuka dan keras antar surat kabar di Jakarta masa itu. Dalam suasana demikian kartun editorial muncul sebagai cerminan dinamika politik tersebut. Dalam situasi keterbukaan dapat ditemukan beragam corak metafora visual dan sikap emotif kartun editorial.
Secara umum penelitian menggunakan pendekatan kualitatif, memahami artifak melalui jejaring budaya yang melingkupinya. Sebagai penelitian seni rupa, telaah ini berfokus pada penyingkapan metafora visual dalam kartun editorial dan relasinya dengan situasi politik dan budaya. Hal tersebut dilakukan dengan menelaah segi perupaan pada metafora dari artifak terkumpul pada surat kabar terkemuka di Jakarta, memaparkan situasi politik masa itu, serta latar budaya yang mendasari ungkapan kartun editorial tersebut. Relasi antara situasi politik dan aspek budaya dijadikan acuan untuk menelaah bagaimana ungkapan emotif metafora visual dibangun melalui kartun editorial.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat relasi yang kuat antara kartun editorial dan keberpihakan media, dengan situasi politik dan kebudayaan yang mendukungnya. Keseimbangan situasi politik memberi peluang kebebasan pada kartun editorial mengungkap metafora dengan sikap emotif yang terbuka. Hal itu secara jelas tampak pada hasil ungkapan karya, dilihat dari aspek rupa dasar, ungkapan sikap tubuh, dan tampilan metafora visual.
Sebagai karya yang dilahirkan komunitas urban, kartun menampilkan tanda dan kosa kata yang hidup di budaya masyarakat modern. Meskipun demikian pada beberapa ungkapan karya, penggambaran wajah orang Indonesia dan sistem nilai lokal tetap muncul. Transisi budaya menuju masyarakat urban baru, berdampak kesenjangan antara nilai lokal dengan nilai budaya global baru di Indonesia.
Transisi budaya dan keterbukaan situasi politik memberi peluang kepada suasana emotif yang bebas dalam menampilkan metafora visual pada kartun editorial. Dapat disimpulkan bahwa, sikap emotif pada metafora kartun editorial sangat diwarnai oleh interelasi aspek seni rupa, sosial politik dan nilai budaya masanya.
Pendekatan metodologis penelitian ini dapat pula diterapkan untuk mempelajari relasi metafora dan ungkap emotif dengan situasi masyarakat pada masa yang berbeda, agar memperoleh pemahaman tentang jejaring yang mendukung penciptaan kartun editorial dari masa ke masa. Bagi kartunis, pengamat dan pengguna kartun, kesadaran akan relasi kartun dengan berbagai aspek seni rupa, sosial dan budaya akan meningkatkan wawasan dalam memahami misi sosial kartun editorial.
Kata kunci: metafora visual, kartun editorial, makna, emotif.
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Abstrak, Daftar Isi, Daftar Lampiran, Daftar Gambar, Daftar Tabel
Bab I. Pendahuluan, Bab II. Landasan Teori
Bab III. Politik dan Media Masa Demokrasi Parlementer di Indonesia
Bab IV. Kartun Editorial Masa Demokrasi Parlementer
Bab V. Metafora Pada Kartun Editorial, Bab VI. Simpulan dan Saran
Lampiran: Riwayat Hidup Penulis
•••
About this entry
You’re currently reading “Metafora Visual Kartun Editorial pada Surat Kabar Jakarta 1950-1957,” an entry on Desain Grafis Indonesia
- Published:
- February 24, 2008 / 6:10 pm
- Category:
- Academic Writing, Priyanto Sunarto, 2005



8 Comments
Jump to comment form | comments rss [?] | trackback uri [?]