Self Portrait

> 2nd Work of Dodi Rosadi

rindu-api

Rindu Api

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

green

Green

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

red

Red

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

odoy-vs-obey

Odoy vs. Obey

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

metroseksual

Metroseksual

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Karya Seni dan Desain Saya Tidak Berada di Wilayah Abu-abu

Oleh: Dodi Rosadi

Lebih dari 10 tahun terakhir saya mengurangi berpameran lukisan tunggal maupun bersama. Sejak 5 tahun terakhir saya bekerja sebagai desainer buku di Mizan Pustaka Bandung, di mana saya banyak bersentuhan dengan teknologi komputer dan internet hingga saya mengalami metamorfosa dalam memandang serta berkarya seni rupa murni.

Di tengah dahsyatnya dunia internet menerjang kehidupan saya, gagasan untuk berkesenian bermunculan dengan deras pada diri saya. Terkadang ketika saya mempunyai gagasan untuk berkarya – seni ataupun desain – ide-ide gila terkadang muncul… tetapi lacur, ketika di cek di google ternyata sudah pernah dibuat orang.

Dari kenyataan di atas, terbukti bahwa di masa kini kemurnian sebuah karya ditentukan oleh waktu dan kecepatan, serta politicking dari karya atau desain itu. Wacana post-modernisme dan anti post-modernisme tidak banyak mendapat perlawanan di sini. Stuckism ala Billy Childish tidaklah banyak berkembang di Indonesia karena para seniman serta kuratornya lebih sibuk membicarakan wacana pasar.

Akibatnya, meminjam istilah Soewarno Wisetrotomo, wacana pasar jauh lebih mengemuka ketimbang pasar wacana. Para perupa lebih banyak berorientasi pada pasar daripada memikirkan bagaimana menciptakan karya yang berkualitas. Parameter kesuksesan adalah manakala banyak karyanya yang diborong dalam sebuah pameran. Bahkan banyak perupa yang karyanya sudah diborong dulu oleh art dealer dan ketika dipamerkan sudah bukan lagi menjadi miliknya. Lukisan sudah terjual sebelum pameran dibuka. Malah ada yang harus dilakukan undian dulu karena jumlah pembeli lebih banyak ketimbang lukisan yang dipamerkan. Begitu pula halnya dengan keberadaan dunia desain kita.

Dari atmosfir berkesenian seperti di atas saya mencoba menggabungkan desain dengan seni murni ke dalam karya saya. Tentunya saya berandai-andai pula untuk menggabungkan wacana pasar dan pasar wacana. Sudah dua tahun terakhir saya melakukan eksperimen seni yang berbeda dengan menggunakan media internet. Tengok karya eksperimen seni saya di fans blog http://odoygiantfansclub.multiply.com/ dengan judul A Difference Art Project.

Saya meminta kepada anggota fans saya untuk difoto bersama karya poster saya, meski dengan bahasa yang sulit dimengerti oleh mereka, karena saya menggunakan google translate untuk menerjemahkan permintaan saya, ternyata ada juga yang mengirimkan foto mereka ke blog tersebut. Mereka mengirimkannya dari Mesir, Israel, Budapest, Thailand dan lain-lain.

poster-odoygiant-di-budapes

poster-odoygiant-di-korea

Karya yang kedua berjudul Self Portrait saya rilis di facebook saya banyak sekali memperoleh tanggapan. Dalam Self Portrait, saya membuat masterpiece. Kalau di masa Affandi pelukis menggunakan cat minyak dan kanvas, pada masa kini komputer adalah alat yang tepat untuk melukis. Seperti Andy Warhol atau Shepard Fairey, saya menganggap antara desain dan seni murni tidak ada batas dalam pengerjaannya. Yang membedakan mereka adalah cara dari politik mereka mengada. Jadi saya pikir, karya seni saya tidak berada di wilayah abu-abu. Tidak apa-apa bukan?

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Curriculum vitae:

Dodi Rosadi
Birthday: Bandung, July 4th, 1969
Address: Jl. Kampus VII No. 42, Babakansari, Bandung, West Java, Indonesia
Phone: 62 081573691111
Email: odoygiant@yahoo.co.id

1989–1994: Bachelor degree, Graduate from Bandung Institute of Teacher Education in Art Design.

ART PERFORMANCES

Solo Exhibition
1995: ISOLATED, at Pentagon Hall, Bandung Institute of Teacher Education in Art Design
1996: DREAMS, THE SADDEST SOUL, at Bandung
1998-2004: BEHAVIORAL THINKING, an art of philately to the world
2004: ARTEFUX, at IF Venue Bandung

Community Exhibiton
Being a part of art exhibition actively, since 1990 through 2006, at Jakarta Art Award, Pasar Seni Ancol

AWARDS

1995: 1st place on Painting Competittion, at Pasar Seni ITB & C59
1997: 2nd place on Cover Design Competition IKAPI West Java | Finalist of Philip Morris Awards
1998: 2nd place on Poster Design Competition at Goethe Institute Bandung
1999: Finalist of Phillip Awards | Best Illustrator for Children Book, National Education Department
2002: 2nd place on Fiction Writing and Illustrated Story Competition, National Education Department
2004: 1st place Gravity Dago Festival, sponsored by Djarum Super

WORK EXPERIENCES

1994–1999: Freelance Illustrator at Pikiran Rakyat Newspaper Bandung
1994 until now: Freelance Illustrator at Horison, Literary Magazine
1994–2004: Freelance Illustrator at Kalam, Culture Journal
1999-2004: Freelance Illustrator at Mizan
2005 until now: Book Designer at Mizan Pustaka Publisher

•••


About this entry