Selamat Datang IGDA!

igda_015igda_024igda_18igda_04igda_05igda_06igda_07igda_08igda_09igda_10igda_11igda_12igda_131igda_14igda_151igda_16

………………………………………………………………………….

Identitas visual dan sistem grafis IGDA
Konsep dan eksekusi visual dari Henricus Kusbiantoro
7 Februari 2009
Inner Sunset / San Francisco

Indonesian Graphic Design Award (IGDA) adalah sederhana: wujud penghargaan dengan komitmen dan integritas bagi Desainer Grafis Indonesia. Tugas komisi perancangan identitas dan sistem grafis IGDA adalah anugerah dan sekali lagi kesempatan diberikan sahabat sekaligus pencetus IGDA: Han Kardinata bagi saya sebagai kelanjutan perjalanan dari perancangan identitas Desain Grafis Indonesia (DGI) dan Museum DGI bagi komunitas desainer grafis Indonesia. Terima kasih Han! Terima kasih pula bagi rekan Ismiaji Cahyono dan Caroline F Sunarko yang ikut memberi dukungan dan mempersiapkan kelahiran IGDA. Bahkan sebelum saya posting berita ini… beberapa teman desainer, dari dalam dan luar negeri, sudah rindu sekali berkontribusi membantu penyelenggaraan IGDA. Kita tak dapat bekerja sendiri.

Apa yang bisa membedakan antara IGDA dan award-award desain grafis lainnya di kancah desain grafis internasional?

Ide visual identitas IGDA dan konsep brand IGDA bermula dari rahasia cara memandang Desainer Indonesia yang berbeda akan sebuah arti penghargaan. Cara pandang atau VISI itulah yang menentukan sikap, prinsip dan passion atau hati Desainer Grafis Indonesia di mata dunia internasional. Prinsip dan pandangan “ilmu padi” seringkali diartikan mentah sebagai desainer berprestasi, rendah hati sekaligus pula rendah diri, pemalu dan lebih nyaman di belakang layar. Sebaliknya dunia internasional kini makin terasa ironis menjadi old-fashioned dengan mengagung-agungkan kejayaan negeri adi daya, kayuhan Michael Phelps, perlombaan nuklir, manusia tercepat, Blackberry atau menara tertinggi Dubai dan segera Menara Jakarta di masa depan… Sepak terjang kompetisi dunia sejujurnya terasa sesak, mual, sangat melelahkan dan overdosis akan performance demi performance.

Dunia yang kita diami semakin kritis, kontroversi, super ambisius, arogan dan sebaliknya masih juga menyisakan manusia-manusia sederhana dengan “ilmu padi” yang sebenarnya. Percaya diri untuk bercermin, sadar akan talenta-nya, bekerja keras, melakukan terbaik bagi dirinya, keluarga, bisnis, komunitas hingga dunia global. Menjadi JUARA tanpa berteriak sekaligus tanpa mengurangi kualitas dan orisinalitas dari karya yang dihasilkan.

Tidaklah heran bila generasi muda mutakhir makin ragu-ragu bahkan alergi dengan prinsip “rendah diri/hati” dari ilmu padi karena padi yang mereka yakini hanya berhenti sekedar tahapan padi yang merunduk… merunduk saja yaitu titik berat performance dan melupakan indahnya tahapan padi siap dituai, dipanen dan disajikan menjadi nasi kepul menemani santapan lombok hijau sebagai bukti. Melebihi aksi.

Selamat datang IGDA!

Henricus Kusbiantoro

PS. Presentasi PowerPoint di atas ini sebelumnya pernah dipresentasikan di ajang temu desainer grafis: Hot Ice Tea #5 Majalah Versus – Jakarta, bulan Januari 2009 sebagai soft launch IGDA yang direncanakan digelar tahun 2009.

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

KONSEP DASAR IGDA (Indonesian Graphic Design Award):

VISI:

IGDA (Indonesian Graphic Design Award) adalah wujud penghargaan bermartabat bagi desainer grafis Indonesia atas pencapaian kualitas karyanya – yang dipikulnya dengan penuh tanggung jawab – dan dinyatakan kepada publik secara nasional dan internasional, sebagai media memposisikan desain grafis Indonesia di peta desain grafis dunia yang diharapkan tercapai selambat-lambatnya pada tahun 2015.

MISI:

1. Membentuk komite IGDA – sebagai bagian dari organisasi non-profit DGI (Desain Grafis Indonesia) – yang independen, netral, kokoh, kompeten, penuh pengabdian, membanggakan dan bisa dipertanggungjawabkan.
2. Menyelenggarakan ajang penghargaan bermartabat berskala nasional bagi insan desain grafis Indonesia setiap tahun agar menjadi tolak ukur (benchmark) bagi kualitas desain grafis Indonesia pada tahun tersebut, melalui rencana yang terprogram secara berkesinambungan.
3. Mengapresiasi secara khusus karya desain yang menghidupkan kembali atau yang melakukan inovasi terhadap inti-inti kebudayaan lokal.

COMPONENT OF A MISSION STATEMENT:

1. Customer: Berorientasi pada kepentingan insan desain grafis Indonesia sebagai ‘customer’.
2. Product/service: Produk utamanya adalah ajang penghargaan IGDA, dan produk pendukungnya: pameran dan seminar (pra-event), dan post-event catalogue IGDA, yang dikemas dengan mengutamakan transformasi desain lokal secara inovatif.
3. Market: IGDA harus dapat direspon oleh pasar atau ‘marketable’. IGDA bisa diterima bila memenuhi kebutuhan customer-nya – insan desain grafis Indonesia – akan ajang penghargaan yang bermartabat dan terpercaya (produk utama) mau pun melalui acara-acara (pameran, seminar) dan post-event catalogue yang berkualitas dan inovatif (produk pendukung).
4. Technology: Menggunakan teknologi tepat guna yang berfungsi mendukung seluruh kegiatan organisasi agar menghasilkan output yang maksimal.
5. Sustainability: Menjalankan organisasi secara berkesinambungan agar mampu bertahan terus-menerus (langgeng) dan berkembang.
6. Philosophy: Membawa manfaat bagi customer (insan desain grafis Indonesia), manajemen (komite), dan para stakeholder (bangsa Indonesia).
7. Self Concept: Bahwa terdapat pola konsep pemikiran yang mandiri sehingga terlaksana ruang aktivitas yang baik melalui rencana-rencana yang terprogram – baik jangka pendek maupun jangka panjang – untuk menjalankan misi IGDA.
8. Public Image: Organisasi mampu membangun citra yang baik di mata masyarakat sehingga kegiatan-kegiatan yang dijalankan mendapat dukungan dari masyarakat.
9. Volunteers: Organisasi mampu melakukan pemberdayaan terhadap mereka yang bekerja di dalam organisasi, serta dalam jangka panjang meningkatkan kesejahteraan mereka.

BRAND POSITIONING:

Kerinduan kembali akan transformasi warisan lokal yang Indonesia miliki menjadi momentum IGDA. Semangat untuk memberi kehidupan kembali kepada desain lokal, mencari adaptasi, sinergi yang organik antara pengaruh luar dan warisan lokal; meneruskan tongkat estafet desain lokal pada generasi selanjutnya terasa lekat pada simbolisasi ilmu padi.

Apakah yang unik dan berharga dari Ilmu Padi? Ilmu Padi sering disalahartikan dan disimpulkan dangkal dengan sebatas sikap kerendahan hati. Kita telah melupakan bahwa padi juga berproses: ditanam (Sumber IDE), bertumbuh makin merunduk (PROSES DESAIN) untuk satu tujuan menghasilkan padi unggul yang siap dipanen (OUTPUT KARYA) dan dinikmati luas bagi komunitas lokal (BERKAT dan TANGGUNG JAWAB) menjadi santapan yang tak tergantikan!

Pada umumnya ajang penghargaan desain di dunia internasional sekedar fokus melayani kebutuhan, output trend industri dan komoditi. IGDA, lebih dari sekedar ajang penghargaan dan kompetisi pada umumnya, sesungguhnya menjadi cermin para petani desain untuk berintrospeksi kembali membumi, memberi kehidupan kembali kepada desain lokal! Karena terbukti, yang mampu bertahan dalam serbuan pasar global adalah petani desain yang mampu menghidupkan kembali inti-inti kebudayaan lama sebagai basis desain lokal untuk bersaing dan memiliki karakter di dunia internasional.

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

BELAJAR MEMAHAMI ILMU PADI…

Apa yang anda bayangkan jika mendengar kabar akan diselenggarakan sebuah kompetisi atau ajang penghargaan? Sebuah adu kemampuan untuk mencapai yang tertinggi, terkuat, tercepat atau apa pun, sebagaimana yang biasa kita saksikan di layar kaca atau baca di media-media on-line dan tercetak?

Lalu bagaimana seandainya ada kompetisi yang sebaliknya, juaranya justru adalah yang terendah?

Inilah rupanya yang akan dinyatakan oleh IGDA (Indonesian Graphic Design Award), sebuah wujud penghargaan bermartabat bagi desainer grafis Indonesia yang baru pertamakalinya akan diadakan di Indonesia.

Lho kenapa bermartabat kalau pengakuan diberikan hanya kepada yang paling rendah?

Indonesia memiliki semangat luhur warisan leluhur mengenai superiotas – bertolakbelakang dengan apa yang diyakini oleh dunia Barat – yang dinyatakan melalui simbolisasi “bagai padi yang makin berisi makin merunduk” yang bermakna semakin tinggi pencapaian seseorang semakin rendahlah hatinya.

Bagi petani, kata-kata ini tidak berhenti hanya sebatas bibir, tapi telah menjadi kearifan hidup mereka turun temurun. Dengan kata lain, dari sekedar varietas yang ditanam untuk dimakan, padi – semenjak ditanam sampai dipanen – hadir sebagai suatu ritual yang menghidupi jiwa masyarakat penanamnya.

Analog dengan siklus padi itu, para petani grafis juga menjalani siklus berkarya sejak menanam (ide), bertumbuh dan merunduk (proses) hingga memanen (output). Dan rupanya, IGDA melihat “padi yang merunduk” itu sebagai gambaran idealisasi seorang juara, yang tetap rendah hati, bertanggungjawab dan lebih banyak memberi daripada menerima.

Selanjutnya kalau di abad ke-10 – menurut catatan Jonathan Rigg, ahli geografi dari University of Durham – Indonesia telah menjadi eksportir beras, maka mengapa tidak bila petani grafis masa kini mencoba mengulang hal yang sama, dengan berupaya mengekspor karya-karyanya supaya ikut mewarnai desain grafis dunia, sejajar tapi dengan gayanya sendiri?

Inilah idealisasi kedua yang rupanya diemban oleh IGDA sehingga bertekad memberikan apresiasi khusus bagi karya desain yang menghidupkan kembali atau yang melakukan inovasi terhadap inti-inti kebudayaan lokal. IGDA, lebih dari sekedar ajang penghargaan dan kompetisi pada umumnya, sesungguhnya menjadi cermin para petani grafis untuk berintrospeksi kembali membumi dan memberi kehidupan kembali kepada desain lokal.

Lalu sedemikian pentingkah bagi IGDA untuk memberi penghargaan khusus bagi karya desain masa kini yang mampu mempromosikan konsep desain lokal?

Telah terbukti memang bahwa yang mampu bertahan dari serbuan pasar global adalah petani grafis yang mampu merevitalisasi desain lokal untuk bersaing dan memiliki karakter di dunia internasional.

Mengenai hal ini pernah diungkapkan oleh Ray Bachtiar Drajat, fotografer yang sangat mendambakan identitas keIndonesiaan, dalam bukunya “Ritual Fotografi”, bahwa:

“Contoh kasus yang bisa dihubungkan dengan pentingnya budaya lokal dimunculkan ke permukaan adalah “gesekan” dengan negara tetangga kita, Malaysia. Sepertinya Pemerintah Negeri Jiran sudah menyadari betul bahwa dalam hal perdagangan harus ada “brand image” yang dijual selain kompromi dengan selera pasar. Nah, membaca kecenderungan ini, mungkin Malaysia yang sudah sadar akan pentingnya brand image ini sedang membidik pasar masyarakat internasional, lalu dengan sadar menjual budaya lokal dalam hal ini industri “batik” yang mereka akui sebagai industri batik tradisi Malaysia yang berkelanjutan (padahal kita tahu bahwa budaya batik adalah budaya Jawa). Dan bukan itu saja, dengan tak merasa berdosa sedikit pun, hampir seluruh kesenian dan budaya Indonesia kini dipublikasikan Malaysia dengan alasan “masih serumpun”.”

“Tentang perlu tidaknya konsep lokal kita angkat untuk bisa muncul di dunia digital yang tujuan utamanya adalah global, jelas perlu kita pertimbangkan lagi. Apalagi jika mengingat teori Malaysia, yang menjelaskan betapa pentingnya sebuah ciri yang bisa cepat mengingatkan pasar akan “siapa aku”. Contoh lokalitas yang bisa bersaing di pasar global adalah Jepang. Di bidang animasi Jepang yang teknologi awalnya mengacu pada teknologi animasi global seperti animasi-animasi produksi Walt Disney, kini malah menjadi trenseter. Ke-lokal-an konsep animasi Jepang bahkan menjadi inspirasi dan acuan sutradara-sutradara muda Hollywood seperti Wachowski bersaudara yang melahirkan trilogi sinema “The Matrix”.“

Dan sebagai penutup, saya kutipkan apa yang pernah disampaikan oleh Sultan Hamengku Buwono X melalui orasi budayanya pada pembukaan pameran Biennale Jogja IX tahun 2007:

“Oleh sebab itu, kita sendiri jangan kalah oleh Malaysia dalam mengembangkan semangat kebangsaan, dengan menjadikan pluralisme perekatnya, sebagai ketahanan bangsa yang ampuh dalam menghadapi pergulatan globalisasi. Kita juga harus menjaga dan memelihara, serta merevitalisasi dan mengembangkan khasanah pusaka budaya kita yang memang amat kaya ini. Jangan sampai terjadi bangsa lain yang mengaku memiliki warisan budaya-budaya Nusantara, hanya karena mereka yang mampu mengembangkannya ke tingkat dunia.”

Jadi, mengapa tidak?

Belajar Memahami Ilmu Padi

Ditulis oleh Hanny Kardinata berdasarkan masukan dari Henricus Kusbiantoro dan Ray Bachtiar Drajat, untuk rubrik “Reflection” Majalah “Versus” #4.

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Dari Acara Press Conference IGDA 2009: “Menanam Ide, Ciptakan Karya, Tuai Prestasi”

Tentang IGDA

Konsep Kuratorial dan Penjurian IGDA 2009

Program Acara IGDA 2009

•••


About this entry