Nekad Matung
oleh: Wedha Abdul Rasyid
2 Februari 2009, jam 1 pagi.
Di TV, di set ke 4, kedudukan 2-1 buat Nadal. Tapi kemudian dia main jelek, kedudukan berbalik 3-6 buat Federer. Gak tau kenapa, aku belain Nadal. Apa aku rasialis gara-gara Federer kelihatan lebih bule?
Sementara sejak lepas magrib tadi, tanganku masih asyik mengorek kepala Lupus dari clay pabrik seharga 120 ribu. Sering banget salah raut. Maklum, selama ini nggak pernah mengukir patung. Seingatku, sampai setua ini (59 tahun) hanya pernah 3 kali aku bikin patung. Itupun nggak serius. Pertama waktu masih SD d/h SR, aku bikin asbak dari tanah liat, eh.. asbak bisa disebut patung nggak sih? Yo wis. Kedua, waktu sekolahku (SMP Negri I Pekalongan) mengadakan pekan seni. Aku demo bikin kepala manusia dari tanah liat juga. Beberapa pengunjung yang ternyata mahasiswa dan dosen ITB memuji karyaku. Salah seorang bahkan menepuk bahuku sambil berkata: “Bagus, sampai ketemu lagi di ITB”. ITB…. Institusi keren yang akhirnya enggak pernah kumasuki… Nah, yang ketiganya aku bikin kepala John Lennon dari lilin punya anakku yang masih kecil, maunya sih kasih contoh anakku kemungkinan yang bisa dicapai dengan lilin mainan. Gak serius juga, sih.
Jam 10 malem tadi, aku sempet ngeFB sama Gusur. Gusur cerita asyiknya dia melarikan diri dari stress kerja ke kanvas. Gusur emang hobi melukis. Lukisannya juga bagus. Aku tanya keberadaan Hilman yang ‘menghilang’. Tapi Gusur juga lagi kehilangan dia. Sejak seminggu sebelum aku bikin patung ini, aku berusaha kontak Hilman. Paling tidak aku pengen cerita tentang proyek ini, atau sekedar permisi, gitu. Dari beberapa info, katanya Hilman lagi sibuk kejar tayang sinetron di PHnya. Akhirnya kuputuskan untuk ke rumahnya saja, kalau patung ini selesai. Keputusan ini pun masih akan berkendala karena aku lupa alamatnya…
Sebenarnya niat bikin patung ini dimulai ketika Ari, anakku yang dosen sculpture di UMN, menantang papahnya untuk adu balap bikin patung Lupus. Ari memang hobi bikin patung, tapi lebih senengnya bikin yang serem-serem. Awalnya aku nggak tertarik dengan tantangan itu…
Jam 1.48 pagi, akhirnya Nadal menang. Kedudukan akhir 3-2 untuk Nadal. Bahkan di set akhir dia menang 6-3. Federer emosional menerima kekalahannya. Dia nangis dan nggak bisa meneruskan kata sambutannya. Kasihan juga, tapi aku seneng Nadal menang…
Tantangan Ari baru bikin aku penasaran ketika di rumahnya kulihat patung Lupus nyender lengkap dengan permen karet dan tas tali panjangnya, dari bahan gips, sudah hampir jadi.
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Kamis, 12 Februari 2009, jam 12.50 siang.
Baru saja aku memanggang tambalan. Proses ini sering kulakukan setiap kali aku salah mengerat. Bagian yang salah raut kutambal lagi dengan bubur clay… di depanku Indosiar menyiarkan koruptor botak yang lagi disidang. Pasti si botak itu nggak tau sulitnya bikin patung… untuk mempercepat pengeringan, kompor gas berjasa besar. Sudah 4 hari ini, siang malam aku berusaha untuk mengadaptasi 2 model rambut Lupus yang sudah dikenal. Susah bener. Dulu waktu menggambar Lupus realis dan kemudian ikonnya, nggak sesulit ini. Kadang terpikir, kalau saja dulu Hilman nulis Lupusnya berkepala botak… ( Gb. 2)
Proses tambal dan panggang terus terjadi, terutama di jambul Lupus. Aku merindukan fasilitas ‘undo’ dan ‘delete’ seperti dalam computer. Pelan tapi pasti kekagumanku pada para seniman ukir, pahat, patung dan sejenisnya meningkat tajam. Mereka juga tidak punya fasilitas ‘undo’, tapi karya mereka begitu hebat. Apalagi mengingat ukurannya. Aku dengan kepala Lupus sekecil ini, sudah repot. Gimana mereka para maestro itu bikin patung yang guedhe banget. Aku malu, tapi kupikir akan lebih malu lagi kalau aku nyerah di ujung proses. Aku nggak akan berhenti, gimanapun hasilnya nanti. Aku terus mengorek kepala Lupus, sembari berharap jangan sampai Nyoman Nuarta baca tulisan ini. Kebayang dia akan menjadikanku obyek tertawaan yang ideal dan… sah!
Ya, proses yang kuceritakan dari tadi itu, proses pembuatan kepala Lupus yang kucoba adaptasi dari ikon Lupus siluet itu. Kupikir bikin kepala akan lebih mudah daripada bikin seluruh badan yang tentu saja termasuk kepalanya juga. Ternyata tidak. Ketika ada bagian yang salah korek, bagian itu harus ditambal. Setelah melalui pemanggangan, taunya bagian tambalan jadi lebih keras dibanding yang ditambal. Nah, di sini masalah lagi. Pada waktu pisau korek diatas tambalan, tekanan tangan agak tinggi. Tapi begitu masuk bagian yang agak lunak, sementara tangan belum sempat mengurangi tekanan, terjadilah torehan yang lepas kendali. Jresh,musibah lagi. Itu terjadi berkali-kali…
Di Trans TV ada seorang ibu muda (23 th) membuang bayinya ke dalam sumur tua. Si ibu depresi/stress berat masalah ekonomi, sementara akhir-akhir ini kita sering disuguhi iklan keberhasilan dan jasa pemerintah untuk bangsa ini. Tuing!
Kepala Lupus sudah bisa dibilang jadi, tinggal bikin balon permen karetnya. Tapi aku malah nggak puas. Patung kepala Lupus ini kuadaptasi dari gambar ikon Lupus yang siluet. Kekuatan siluet itu terletak terutama pada model rambut, baru kemudian balon permen karet. Permen karet bisa aku capai. Tapi model rambut? Menciptakan ikon siluet Lupus, mudah sekali. Di situ aku gak perlu memikirkan tampak samping kanan/kiri dan tampak belakangnya. Tapi pada patung kepala yang 3 dimensi ini? Phuih. aku bingung… dengan hanya mengandalkan balon permen karet, imej Lupus nggak bakal dapet…
Lagi-lagi Trans TV, kenapa sih, banyak bener pelajar yang kesurupan? Apa para makhluk halus dan para gendruwo itu sudah enggan bersahabat dengan kita? Atau mereka malah menganggap kita sudah seperti sesamanya? Aku nggak tau, tapi kemunculan Ponari, dukun cilik batu ajaib, mengingatkanku pada fenomena aneh yang selalu berulang manakala masyarakat kecil sedang dalam keadaan bingung, stress, menanggung beban ekonomi yang makin gak tertanggungkan. Di saat yang sama mereka tidak melihat adanya sosok pemimpin yang mengayomi, menentramkan dan bisa memotifasi. Putus asa… (Gb. 3).
Akhirnya patung kepala Lupus kuanggap sebagai proyek latihan motorik saja. Give up? Tentu tidak, aku malah beralih pada proyek Lupus nyender. Kupikir, pada sosok Lupus nyender, banyak elemen yang mendukung tampilannya. Aku tau, dengan bahan gips, aku nggak akan mampu mencapai halusnya dan kriwil-kriwilnya rambut Lupus. Tapi masih ada balon permen karet, tas tali panjang, huruf timbul kanji-kanjian pada tutup tas, tangan yang sedakep, pita merah-putih pada bahu kiri dan yang terakhir dan ini yang paling kuat, sikap tubuh yang lagi nyender itu, saya yakin bisa membentuk citra Lupus. Tentu saya berharap-harap cemas, agar patung Lupus nyender ini nanti bisa diterima sebagai Lupus ke 3 setelah 2 Lupus terdahulu, oleh para mantan fans Lupus dan mereka yang masih setia mengingatnya…
Hilman, where are You?
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
15 Februari 2009 Minggu jam 3 sore.
Aku mulai mempersiapkan gambar-gambar Lupus tampak samping dan depan yang akan kuterapkan pada blok gips berukuran 40 x15 x10 cm yang sebelumnya sudah disediakan Ari. Dia memang support banget pada papahnya. Tampak samping memang sudah ada, hanya diperlukan konturnya saja. Tampak depan dan belakang? Nah yang ini aku harus ngarang. Tapi dengan adanya tampak samping kiri, bagian sisi yang lain bisa dikira-kira. Aku mulai membentuk blok gips secara global. Saat itu aku betul-betul tenggelam. Proses membentuk detail dari bentuk global yang sudah jadi, bisa dari pagi ke pagi lagi. Hanya terpotong waktu makan, kamar mandi dan sholat. Mengasyikkan sekali, tapi keluarga mulai gerah. (Gb. 4).
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
24 Februari 2009 jam 14.20 WIB.
Ternyata dengan bahan gips, lebih enak pengerjaannya dibading clay pabrik yang lebih mahal. Begitu asyik nya membentuk kepala Lupus, aku lupa di bagian 2 lutut yang agak menyatu terjadi bentuk ‘bottle neck’, dan patahlah di bagian itu.Tadinya kupikir patung sekecil itu nggak perlu tulang di dalamnya. Balon permen karet memang dari awal kuputuskan untuk terpisah pembuatannya.
Aku sudah nggak sempet menyimak acara TV lagi. Hanya aku masih ingat tayangan ‘Minta Tolong’ beberapa hari yang lalu… Seorang bocah perempuan dengan berbekal uang Rp 3500, minta tolong untuk dibelikan seragam sekolah SD. Seorang ibu muda penjual mie ayam dorong, tulus menolongnya. Gerobak mie ayamnya ditinggal di pinggir jalan, kemudian dituntunnya anak kecil itu mencari toko penjual seragam sekolah. Dibelinya barang itu dengan harga Rp. 15000. Hari sudah mulai gelap ketika mereka berdua sampai kembali ke gerobak si Ibu. Selesai? Ternyata belum. Si Ibu setengah memaksa anak kecil itu menunggu untuk dibuatkan sebungkus mie ayam gratis. Kemudian berkali-kali dia menanyakan apakah si anak tau jalan pulang. Ketika mereka berpisah, tampak sekali kekhawatiran di wajah si Ibu akan keselamatan bocah perempuan kecil itu. Tak tahan, aku menangis menyaksikan ketulusan Ibu tadi… Si kecil menolong si kecil…
Bagian lutut ke bawah kusambung lagi, kali ini kuperkuat dengan tulang tusuk gigi. Demi keselamatan kerja, bagian kepala juga kupisahkan sebatas leher. Ini menguntungkan. Kecuali menghindari musibah, aku juga bisa menggarap kerah baju dengan lebih baik. Sudah aman? Ternyata masih belum. Bodohnya aku, kenapa aku nggak sadar adanya titik rawan lainnya? Titik rawan itu adalah adanya ‘bottle neck’ lain. Badan dan tas Lupus berukuran besar kemudian menyempit setelah lutut. Nah, hubungan antara keseluruhan ‘body’ Lupus itu dengan blok dasar, hanya pada sol sepatu kiri sementara sepatu kanan hanya ujungnya saja yang menyentuh dasar. Kejadian berikutnya bisa diduga. Patung gips Lupus patah lagi di atas mata kaki. (Gb. 5).
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Jum’at 6 Maret 2009, 12.16 WIB.
Bagian dasar sudah kuputuskan untuk dipisah. Aku berkutat menyiapkan sepatu kiri dan kanan pengganti sepatu yang hancur. Terus terang aku sudah hampir putus asa. Apalagi anakku yang kasihan sama bapaknya bilang: “Sudahlah, Pah. Papah emang bukan pematung, aku aja ngliatnya capek”. “Lagian buat apa sih? Masanya kan udah lewat, anak-anak sekarang mana kenal Lupus” Sambungnya ketika dia sadar kata-katanya gak terlalu kuhiraukan…
Khotbah Jum’at jelas terdengar dari masjid di samping kompleks. Isinya biasa, surga neraka dan hubungannya dengan dosa dan pahala dalam konteks syariat. Sebelumnya aku denger penyiar Trans 7 bilang, bahwa dunia berhutang budi pada Indonesia karena kita memiliki hutan yang terluas… sayangnya kita belum bisa memeliharanya. Berita ini berkaitan dengan tayangan banjir di Bale Endah, Bandung dan Jawa Timur sebelumnya. Andai saja, para khotib kita memasukkan sedikit saja nasihat tentang ekosistem pada setiap khotbah Jum’atnya, mungkin akan lain hasilnya…
Bikin patung ini melelahkan tapi sekaligus mengasyikkan sehingga sekali lagi, aku nggak ikut sholat Jum’at. Astaghfirullahuwal adzim… Ya, anakku memang benar. Dari sisi waktu ngetop, sudah lewat dan tentunya kalau mau masuk ke bisnis juga pasti kalah dengan patung action figure yang sekarang merebak. Jadi kupikir kalau bukan aku, siapa lagi yang mau bikin souvenir patung Lupus? Yang bisa dan pasti bisa lebih sempurna, tentu banyak. Dan yang paling penting, sampai setua ini, rasanya aku belum sempat berterimakasih kepada mereka yang dulu begitu antusias menerima dan memuji gambar-gambar Lupusku. Dan inilah ujud rasa terimakasihku itu. Atau paling tidak cucu dan cicitku kelak akan tau bahwa kakek buyutnya pernah nekad matung sosok imajiner karangan Hilman yang bernama Lupus, yang sekitar tahun 80an popular di kalangan remaja. Dan disana kelak saat aku sudah tiada, aku akan tersenyum mendengar anak atau cucuku bercerita menjawab pertanyaan cucu atau cicitku sambil tangannya yang kecil menunjuk-nunjuk patung kecil ini. Semoga.
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Selasa, 19 Mei 2009 Jam 1.37 pagi.
Ya, catatan waktunya memang meloncat. Sebetulnya di dalam masa sebelum ini, banyak rentetan musibah yang terjadi. Tapi kalau kuceritakan semua, tentu akan seperti rangkaian kisah sedih yang tak pernah sudah. Membosankan!
Sebetulnya hari Senin malam, model gips keseluruhan sudah jadi. Besok Ari akan membawanya ke tukang cetak resin. Tapi menunggu besok, aku nggak bisa tidur walaupun sudah berat mata ini. Iseng-iseng aku ambil lagi kepala Lupus untuk periksa sana-sini. Mungkin karena nyawa sudah setengah melayang, motorikku terganggu. Dan terjadilah musibah si jambul. Kepala Lupus jatuh langsung ke ubin dan hancurlah jambul keramatnya. Mendadak kantukku hilang dan sampai jam 9.00 pagi, kuperbaiki lagi jambul itu. Alhamdulillah, ketika Ari datang, model gips Lupus sudah siap untuk dibawa ke tukang cetak. (Gb. 6).
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Alhamdulillah, akhirnya semua batu sandungan itu, kini berada di belakangku. Mudah-mudahan tukang cetak resin tidak ikut menabur kerikil untukku. Jujur ada perasaan kapok di dalam, tapi di bagian lain, ada yang pelan-pelan tumbuh. Bila Tuhan memanjangkan umurku, insya Allah aku ingin memamerkan karya patung-patungku…
Akhirnya, sekali lagi aku, juga atas nama Hilman, mengucapkan terimakasih yang tak terhingga kepada Anda semua yang dulu menerima dan menghargai karya-karya tulisan dan illustrasi Lupus kami. Dan sekarang aku juga berharap agar patung kecil ini bisa diterima sebagai Lupus ke 3 sekaligus sebagai ujud penghargaanku pada mereka yang tumbuh bersama Lupus dan sampai sekarang masih mengingatnya. Terimakasih. Dan untuk Ari, terimakasih untuk tantangannya.
Pesan penutup: JANGAN PERNAH MENGANGGAP TULISAN INI SEBAGAI TUTORIAL. CAPEK!
Salam terimakasih, Wedha Abdul Rasyid.
Email: wedha_ar@yahoo.com
HP: 0818 737435
•••
About this entry
You’re currently reading “Nekad Matung,” an entry on Desain Grafis Indonesia
- Published:
- July 4, 2009 / 9:40 am
- Category:
- Portfolio, Wedha Abdul Rasyid
















49 Comments
Jump to comment form | comments rss [?] | trackback uri [?]