Welcome Speech – Press Conference IGDA: Galeri Antara 04.07.09

bulir_grafis

WELCOME SPEECH
Hanny Kardinata

Bapak dan Ibu, hadirin yang saya muliakan… selamat sore dan salam sejahtera.

Atas nama komite IGDA saya mengucapkan selamat datang. Dalam beberapa jam ke depan, ijinkan kami menyampaikan pemaparan singkat mengenai ajang penghargaan Indonesian Graphic Design Award (IGDA) yang untuk pertama kalinya akan diselenggarakan pada tahun 2009 ini.

IGDA adalah sebuah ajang penghargaan bagi desainer grafis Indonesia yang diselenggarakan oleh komite IGDA yang bekerja bahu-membahu secara pro-bono demi kemajuan desain grafis Indonesia, dengan dukungan penuh dari asosiasi-asosiasi desainer grafis, seperti ADGI (Asosiasi Desainer Grafis Indonesia) dan FDGI (Forum Desain Grafis Indonesia), juga dari industri terkait.

Komite IGDA adalah sebuah organisasi yang terdiri dari para praktisi dan akademisi di bidang desain grafis yang memiliki keinginan kuat untuk memajukan desain grafis Indonesia, sebagian berada di Indonesia dan sebagian lagi berkarya di luar Indonesia.

Secara nasional, IGDA diharapkan akan menjadi tolak ukur (benchmark) bagi perkembangan desain grafis Indonesia, dan melalui penyelenggaraan yang baik serta teratur (sustained) kelak bisa mengangkat desain grafis Indonesia menjadi salah satu kekuatan yang diperhitungkan di dunia internasional.

Sejalan dengan IGDA sedang dirancang sebuah Museum Desain Grafis Indonesia (MDGI) yang selain akan menjadi tempat menyimpan dan merawat artefak desain grafis sebagai kekayaan budaya Indonesia – termasuk karya-karya IGDA ini – diharapkan kelak juga akan berfungsi sebagai pusat studi dan pengembangan desain grafis Indonesia. Kedua organisasi ini, IGDA dan MDGI – bersama dengan asosiasi, forum, lembaga pendidikan dan industri terkait – kelak akan bersinergi untuk bersama-sama mewujudkan desain grafis Indonesia yang lebih bermartabat, di negeri sendiri mau pun global.

Pada kesempatan ini saya ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh anggota komite IGDA dan MDGI atas kerja kerasnya selama ini, yang bekerja dengan segala keterbatasan dan acapkali harus mengabaikan kepentingan-kepentingan pribadi, juga kepada para sponsor, sehingga acara jumpa pers ini bisa terlaksana dengan baik. Bila anda memandang ke sekeliling, pada poster, banner, proposal, kartu undangan, dsb, semua ini merupakan hasil kolaborasi dari 4 orang desainer – 2 orang desainer, masing-masing tinggal di Karawaci dan San Francisco, 1 orang ilustrator yang berdomisili di Bandung, dan 1 orang tipografer yang tinggal di New Jersey – untuk Indonesia.

Saya ingin menghimbau seluruh rekan-rekan seprofesi – praktisi dan akademisi di seluruh tanah air – agar melupakan perbedaan dan persaingan, untuk bekerjasama demi kepentingan yang lebih besar – melalui IGDA – demi kemartabatan profesi desainer grafis Indonesia. Karena kalau bukan kita sendiri, kepada siapa kita akan berharap?

Sekian… atas kehadiran Bapak dan Ibu, kami seluruh anggota komite IGDA mengucapkan terima kasih. Semoga dengan kemauan baik, dan atas berkat dan rahmat Tuhan Yang Maha Esa, IGDA 2009 akan berjalan lancar dan sesuai dengan harapan kita semua.

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Berikut, ijinkan juga kami membacakan sepatah dua patah kata dari Henricus Kusbiantoro, Creative Director IGDA yang telah ikut berjuang dari ‘pos’nya di San Francisco, USA, ditujukan untuk desainer grafis Indonesia, di bawah judul:

HANUMAN GRAFIS

Suatu hari desainer berkelas dunia di New York bernama Steff Geissbuhler pernah berbicara begini pada saya: “Kira2x seperti apa kota Jakarta itu? Apa itu desain grafis Indonesia? Apa ada gedung2x bertingkat di Indonesia? Setahu saya di Indonesia masih banyak MONYET berkeliaran.”

Mendengar tanggapan seperti itu, saya seperti salah dengar dan ingin tertawa terguling-guling. Dasar kampungan! Biasanya desainer New York dikenal dengan wawasan yang luas. Tetapi tidak dengan yang satu ini. Saya tidak marah pada beliau. Justru merasa kasihan. Sekarang Steff Geissbuhler menebus dosa dengan keliling Asia dan menjadi dosen tamu di Beijing-China. Mata baru terbuka!

Tapi kejadian beberapa tahun yang lalu ini masih membekas di pikiran saya. Kenapa monyet? Ada apa dengan monyet? Apa semua turis asing selalu setia berkunjung ke Sangeh-Bali dan melupakan Jogjakarta?

Saya pikir-pikir lagi memang kita ini tidak jauh dengan monyet. Indonesia dikenal oleh sejarawan dunia sebagai satu-satunya lokasi “missing link” dari pithecantropus atau manusia Jawa. Saya tidak marah bila disebut monyet. Sosok monyet, sosok yang dikenal paling kreatif, selalu panjang akal, gesit tetapi sekaligus memiliki solidaritas tinggi! Sayangnya, monyet dibenci karena suka mencuri. Suka meniru. Mungkin ini teguran bagi Desainer Grafis Indonesia. Lebih suka meniru, mencuri ide dan melupakan kreatifitas dan potensi yang secara alami dimiliki.

Kalau tidak mau dibilang monyet. Ya anggaplah saya memulai dari diri sendiri untuk tidak malu sebagai monyet. Atau sebut saja Hanuman, biar lebih mantap. Janganlah tersinggung bila dunia masih memandang sebelah mata! Desainer Grafis Indonesia dibuktikan bukan dengan perkataan tetapi KARYA! Di sisi lain… Desainer Grafis Indonesia tidak akan pernah dihargai bila kita sendiri tidak belajar menghargai karya-karya bangsa lain. Jangan cepat puas diri sebaliknya terus membuka diri, lapang hati dan giat berproduksi seperti padi!

Ayo Hanuman-Hanuman grafis! Kerahkan karya-karya terbaik untuk Indonesia. Sudah terlalu lama kita tertidur lelap… dilupakan…. diremehkan… Tidak ada lagi kesempatan kedua. Waktu sudah habis.

Demikian… terima kasih.

Galeri Foto Jurnalistik “Antara”, Jakarta, 4 Juli 2009

•••


About this entry