<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Desain Grafis Indonesia</title>
	<atom:link href="http://desaingrafisindonesia.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://desaingrafisindonesia.wordpress.com</link>
	<description>Fostering understanding among Indonesian graphic designers and those interested in graphic design.</description>
	<pubDate>Tue, 20 May 2008 15:51:20 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=MU</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Memperingati 100 tahun Kebangkitan Nasional Indonesia: peluncuran online buku &#8220;I See Indonesia&#8221;</title>
		<link>http://desaingrafisindonesia.wordpress.com/2008/05/20/memperingati-100-tahun-kebangkitan-nasional-indonesia-peluncuran-online-buku-i-see-indonesia/</link>
		<comments>http://desaingrafisindonesia.wordpress.com/2008/05/20/memperingati-100-tahun-kebangkitan-nasional-indonesia-peluncuran-online-buku-i-see-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 May 2008 23:23:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hannykardinata</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Ayip/Matamera Communications]]></category>

		<category><![CDATA[Journal]]></category>

		<category><![CDATA[100 Tahun Kebangkitan Nasional Indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[Ayip]]></category>

		<category><![CDATA[visual arts]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://desaingrafisindonesia.wordpress.com/?p=2701</guid>
		<description><![CDATA[
350 tahun (konon) Indonesia dijajah Belanda, dan 100 tahun usia Kebangkitan Nasional Indonesia. Apakah secara matematis kita perlu 150 tahun lagi untuk “murni” merdeka dan mengimpaskannya? Bicara Indonesia sebetulnya bagi saya “menakutkan” apalagi bicara nasionalisme atau patriotisme. Seakan kata itu menjadi barang langka bahkan cenderung elitis dan sakral. Atau malah kamuflase karena banyak yang memanipulasi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-salam-pembuka.jpg"><img src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-salam-pembuka.jpg?w=600&h=254" alt="" width="600" height="254" class="alignnone size-full wp-image-2736" /></a></p>
<p>350 tahun (konon) Indonesia dijajah Belanda, dan 100 tahun usia Kebangkitan Nasional Indonesia. Apakah secara matematis kita perlu 150 tahun lagi untuk “murni” merdeka dan mengimpaskannya? Bicara Indonesia sebetulnya bagi saya “menakutkan” apalagi bicara nasionalisme atau patriotisme. Seakan kata itu menjadi barang langka bahkan cenderung elitis dan sakral. Atau malah kamuflase karena banyak yang memanipulasi artinya? Wallahualam.</p>
<p><strong>I See Indonesia</strong>, sebuah buku yang menawarkan sesuatu yang soft &amp; light untuk menyudahi “kengerian” membicarakan Indonesia, patriotisme dan nasionalisme. Ada 50-an visual yang dibuat Ayip semenjak 2002 mengenai Indonesia yang dibukukan dan diluncurkan bertepatan dengan peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional Indonesia 20 Mei 2008. Dan buat melaunchingnya, situs <a href="http://www.desaingrafisindonesia.co.cc/">Desain Grafis Indonesia</a> adalah virtual venue yang menjadi tuan rumahnya. Selamat menikmati…dan mudah-mudahan menjadi Merdeka.</p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p><strong>ABOUT</strong></p>
<p><strong>I See Indonesia</strong> adalah sekumpulan visual mengenai Indonesia yang dibuat oleh Ayip pada kurun 2003-2008 sebagai karya pribadi yang dikerjakannya dalam beragam medium dan gaya. Dikompilasi dalam sebuah buku yang secara perdana diluncurkan online bertepatan dengan peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional Indonesia. Edisi khusus versi cetak dibuat hanya 100 buku dengan isi 53 karya dalam 100 halaman berwarna hitam, merah dan putih.</p>
<p>Karya yang ditampilkan dalam buku ini merupakan respon terhadap Indonesia yang menjadi kebanggaan sekaligus kegelisahannya. Dituangkan dalam bentuk visual yang tipografis, karikaturis, grafis, bahkan fine arts. Dan Ayip lebih senang menggolongkannya sebagai visual arts. Seperti yang disampaikan dalam pengantarnya, karya-karyanya sangat subyektif dan dipenuhi nuansa romantis. Bukunya yang pertama ini didedikasikan untuk para desainer Indonesia dan ADGI.</p>
<p>TENTANG AYIP</p>
<p>Ayip hampir 20 tahun menggeluti dunia visual lewat desain komunikasi visual, kini walau posisinya sebagai creative director di Matamera Communications yang dirintisnya di Bali semenjak 1991, namun ia masih setia berkarya dengan profesi desainer yang dicintainya. Pertemanannya dengan berbagai profesi seni dan kreatif membentuk cakrawalanya dalam dunia seni menjadikan sebuah pemahaman semakin tidak ada batas diantara bidang seni selain sebuah medium kreatifitas untuk berkarya, berekspresi dan mengkontribusikannya untuk kehidupan sosial.</p>
<p>Aktifitasnya dalam dunia desain dan visual tidak hanya ditunjukkan dalam pekerjaan namun ia aktif juga dalam aktifitas lain semisal pameran yang dalam tiga tahun terakhir diikutinya termasuk pameran poster internasional “Light of Hope for Indonesia” Agustus 2005 dan “One Globe One Flag” Agustus 2007 serta pameran seni untuk climate change di GWK Desember 2007. Karyanya bersama tim dari Matamera mendapat beberapa award di ajang Pinasthika Ad Festival.</p>
<p>Beberapa partisipasinya dalam proyek lingkungan yang tengah dikerjakannya adalah kampanye World Silent Day dan Jaringan Ekowisata Desa di Bali. Kini bersama teman-teman lain di Bali membentuk Bali Now! dan bersama BEDO serta asosiasi profesi tengah terlibat dalam program komunitas kreatif di Bali merespon kebangkitan Indonesia melalui industri kreatif. Selain itu aktif menjadi anggota Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (PPPI) dan Asosiasi Desain Grafis Indonesia (ADGI).</p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p><strong>FOREWORD</strong></p>
<p><strong>I See Indonesia</strong><br />
Pengantar Karya Oleh Ayip</p>
<p>Isi buku ini, awalnya adalah koleksi lepasan karya pribadi yang dituangkan suka-suka dalam goresan, foto maupun desain. Membiasakan merespon sesuatu apalagi kejadian barangkali yang melatari hadirnya karya-karya diluar pekerjaan mendesain atau non komersil ini. Bagi saya kebiasaan ini penting sebagai catatan bebas merespon sesuatu lewat kepekaan dan kacamata profesi.</p>
<p>Indonesia, entah apa rasanya bagi saya. Saya menjadi orang Indonesia secara otomatis karena dilahirkan di Indonesia, karena orang tua saya adalah orang Indonesia. Jadi apa rasanya? Saya tidak pernah bergerilya menghunus bambu runcing. Satu-satunya momen yang melekat merasa pertamakali menjadi orang Indonesia adalah upacara bendera di sekolah dasar dulu. Menyanyikan lagu Indonesia Raya, membacakan teks Pancasila dan proklamasi, membacakan teks sumpah pemuda dan menghormat kepada bendera merah putih.</p>
<p>Kegalauan menjadi orang Indonesia justru terjadi ketika melihat kepiluan mendalam merasakan ketidaksempurnaan sebuah bangsa: oknum pemerintahan dan mentalitas bangsa yang korup, kebijakan pemerintah yang tidak strategis, asset bangsa “dicuri” orang, mudah “dibodohi” bangsa lain dan sulit “bangkit” dari keterpurukan. Pada suatu ketika di sebuah perjalanan di negeri orang tiba-tiba mata saya berkaca. Pedih karena tiba-tiba terbesit “negative thinking” merasa bahwa ini barangkali adalah nasib bangsa Indonesia. Atau barangkali suratan? Mudah-mudahan hanya romantisme saja. Dan saya memilih ini adalah nasib karena dengan upaya ia bisa berubah…</p>
<p>Semua yang saya buat disini -dibuat dalam kurun 2002-2008- terutama ditujukan kepada diri sendiri, sebagai pertanyaan, kemungkinan dan andai-andai bahkan “hiburan”. Gambar diri yang ditutup matanya oleh “kain merah putih” yang ditaruh pada halaman utama adalah cermin “Saya Melihat Indonesia” yang tak berjarak. Terbutakan. Dan sangat subyektif. Itulah cerminan semua karya yang tampil bersama dalam buku ini.</p>
<p>Jika akhirnya harus dipublikasikan anggap saja saya merindukan percakapan tentang Indonesia yang “berbeda”, yang dapat menegaskan kembali arti penting kebangsaan bagi kita semua secara “out of<br />
mainstream”. Jika ternyata kegelisahan ini dimiliki oleh banyak orang yang sama seperti saya, Alhamdulillah.</p>
<p>Berpikir tentang kekayaan Indonesia; alam, seni dan budaya, manusia, kreatifitasnya, luasnya dan berjuta potensi lainnya, inilah yang menjadikan ketidaknyamanan melihat kenyataannya. Will I see Indonesia in the bright time? Suatu saat saya ingin tergetar seperti ketika saya mengolah kedahsyatan dan keindahan kata In-do-ne-sia, kekuatan merah-putih dan Burung Garuda serta keragaman gambar Indonesia dalam karya-karya di buku ini. Thanks God I’m Indonesian.</p>
<p>Secara tidak sengaja, buku ini diterbitkan bertepatan dengan peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional Indonesia. Mudah-mudahan menjadi manfaat, inspirasi dan benih untuk kita lebih berarti.</p>
<p>Denpasar Mei 2008</p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p><strong>• Cover</strong></p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-cover.jpg"><img src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-cover.jpg?w=600&h=427" alt="" width="600" height="427" class="alignnone size-full wp-image-2735" /></a></p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p><strong>• Read Indonesia (RI)</strong></p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-ri-unity.gif"><img src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-ri-unity.gif?w=600&h=450" alt="" width="600" height="450" class="alignnone size-full wp-image-2741" /></a></p>
<p>As One?</p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-ri-tanah-air-kita.jpg"><img src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-ri-tanah-air-kita.jpg?w=600&h=464" alt="" width="600" height="464" class="alignnone size-full wp-image-2703" /></a></p>
<p>Read Indonesia</p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-ri-bamburuncing.jpg"><img src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-ri-bamburuncing.jpg?w=600&h=464" alt="" width="600" height="464" class="alignnone size-full wp-image-2704" /></a></p>
<p>Fighting for Freedom</p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-ri-garuda-rest.jpg"><img src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-ri-garuda-rest.jpg?w=350&h=542" alt="" width="350" height="542" class="alignnone size-full wp-image-2705" /></a></p>
<p>Take A Rest</p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-ri-laundry-sky.jpg"><img src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-ri-laundry-sky.jpg?w=600&h=464" alt="" width="600" height="464" class="alignnone size-full wp-image-2706" /></a></p>
<p>For Lease 100 Years</p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-ri-mendung-gagah.jpg"><img src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-ri-mendung-gagah.jpg?w=600&h=464" alt="" width="600" height="464" class="alignnone size-full wp-image-2707" /></a></p>
<p>Mendung Tapi Gagah</p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-ri-moving-garuda.jpg"><img src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-ri-moving-garuda.jpg?w=600&h=464" alt="" width="600" height="464" class="alignnone size-full wp-image-2708" /></a></p>
<p>Entering Bright Zone</p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-ri-pancasila.jpg"><img src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-ri-pancasila.jpg?w=600&h=464" alt="" width="600" height="464" class="alignnone size-full wp-image-2709" /></a></p>
<p>Magic Words</p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-ri-proklamasi.jpg"><img src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-ri-proklamasi.jpg?w=600&h=464" alt="" width="600" height="464" class="alignnone size-full wp-image-2710" /></a></p>
<p>If These Are Larger, Will It Make Us Realized That We Are Freedom Already?</p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p><strong>• Ind[oh]nesia (OH)</strong></p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-lovehope.jpg"><img src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-lovehope.jpg?w=600&h=464" alt="" width="600" height="464" class="alignnone size-full wp-image-2711" /></a></p>
<p>Love Hope</p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-oh-supersemar.gif"><img src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-oh-supersemar.gif?w=600&h=464" alt="" width="600" height="464" class="alignnone size-full wp-image-2742" /></a></p>
<p>SuperSmart</p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-oh-tomakeitbright.jpg"><img src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-oh-tomakeitbright.jpg?w=600&h=464" alt="" width="600" height="464" class="alignnone size-full wp-image-2713" /></a></p>
<p>To Make It Bright</p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-current-climate.jpg"><img src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-current-climate.jpg?w=600&h=464" alt="" width="600" height="464" class="alignnone size-full wp-image-2737" /></a></p>
<p>Current Culture Climate</p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p><strong>• Only1ndonesia</strong></p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-only1ndonesia.jpg"><img src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-only1ndonesia.jpg?w=600&h=467" alt="" width="600" height="467" class="alignnone size-full wp-image-2716" /></a></p>
<p>Only1ndonesia</p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-only1-hospitality.jpg"><img src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-only1-hospitality.jpg?w=600&h=464" alt="" width="600" height="464" class="alignnone size-full wp-image-2714" /></a></p>
<p>Hospitality. Only1ndonesia</p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-only1bali.jpg"><img src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-only1bali.jpg?w=600&h=464" alt="" width="600" height="464" class="alignnone size-full wp-image-2715" /></a></p>
<p>Bali. Only1ndonesia</p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-only1people.jpg"><img src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-only1people.jpg?w=600&h=464" alt="" width="600" height="464" class="alignnone size-full wp-image-2717" /></a></p>
<p>People. Only1ndonesia</p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-only1-borobudur.jpg"><img src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-only1-borobudur.jpg?w=600&h=464" alt="" width="600" height="464" class="alignnone size-full wp-image-2718" /></a></p>
<p>Borobudur. Only1ndonesia</p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p><strong>• I do Indonesia (Type)</strong></p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-type.jpg"><img src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-type.jpg?w=600&h=464" alt="" width="600" height="464" class="alignnone size-full wp-image-2719" /></a></p>
<p>I Love Ina</p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-type1.jpg"><img src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-type1.jpg?w=600&h=464" alt="" width="600" height="464" class="alignnone size-full wp-image-2720" /></a></p>
<p>What Have We Been Done For Indonesia?</p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-type2.jpg"><img src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-type2.jpg?w=600&h=464" alt="" width="600" height="464" class="alignnone size-full wp-image-2721" /></a></p>
<p>Together In One Indonesia</p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-type-100ina.jpg"><img src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-type-100ina.jpg?w=600&h=464" alt="" width="600" height="464" class="alignnone size-full wp-image-2722" /></a></p>
<p>Indonesia 100%</p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-type-all-love.jpg"><img src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-type-all-love.jpg?w=600&h=464" alt="" width="600" height="464" class="alignnone size-full wp-image-2723" /></a></p>
<p>All Love Indonesia</p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-type-balance.jpg"><img src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-type-balance.jpg?w=600&h=464" alt="" width="600" height="464" class="alignnone size-full wp-image-2724" /></a></p>
<p>Keep It Balance</p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-type-can.jpg"><img src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-type-can.jpg?w=350&h=542" alt="" width="350" height="542" class="alignnone size-full wp-image-2725" /></a></p>
<p>CanSnap</p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-type-ill-do-it-right.jpg"><img src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-type-ill-do-it-right.jpg?w=600&h=464" alt="" width="600" height="464" class="alignnone size-full wp-image-2726" /></a></p>
<p>Do It Right</p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-type-jangan-omong.jpg"><img src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-type-jangan-omong.jpg?w=600&h=464" alt="" width="600" height="464" class="alignnone size-full wp-image-2727" /></a></p>
<p>Jangan Omong Doang</p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-type-merdeka.jpg"><img src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-type-merdeka.jpg?w=600&h=464" alt="" width="600" height="464" class="alignnone size-full wp-image-2728" /></a></p>
<p>Merdeka 100 km</p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-type-pencil.jpg"><img src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-type-pencil.jpg?w=600&h=464" alt="" width="600" height="464" class="alignnone size-full wp-image-2729" /></a></p>
<p>Make It Easy</p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-type-stairway.jpg"><img src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-type-stairway.jpg?w=350&h=542" alt="" width="350" height="542" class="alignnone size-full wp-image-2730" /></a></p>
<p>Stairway</p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-type-yes-indonesia-1.jpg"><img src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-type-yes-indonesia-1.jpg?w=600&h=464" alt="" width="600" height="464" class="alignnone size-full wp-image-2731" /></a></p>
<p>Yes Indonesia!</p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p><strong>• Presidential Suite</strong></p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-ps-president.jpg"><img src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-ps-president.jpg?w=600&h=464" alt="" width="600" height="464" class="alignnone size-full wp-image-2732" /></a></p>
<p>Knowing Our Leaders</p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-ps-drive-carefully.jpg"><img src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-ps-drive-carefully.jpg?w=600&h=464" alt="" width="600" height="464" class="alignnone size-full wp-image-2733" /></a></p>
<p>Caution: Drive Carefully</p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-ps-pemimpin-masa-kini.jpg"><img src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-ps-pemimpin-masa-kini.jpg?w=600&h=464" alt="" width="600" height="464" class="alignnone size-full wp-image-2734" /></a></p>
<p>Dicari: Pemimpin Masa Depan</p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p><strong>CLOSING WORDS</strong></p>
<p>MENGGALI DAN MENGINTERPRETASI KEMBALI SIMBOL KEINDONESIAAN<br />
Oleh: Sugi Lanus</p>
<p>Buku ini adalah ‘reproduksi simbol’. Deretan huruf I-N-D-O-N-E-S-I-A, Garuda Pancasila, Batik, Borobudur, bambu runcing, etc. adalah deretan symbol keindonesiaan yang telah ada, yang mulai kehilangan makna simboliknya, di sini dipresentasikan kembali dengan cara baru, digali kembali dengan ‘perangkat visual’ yang mampu mencampuradukkan Cinta dan Kesedihan, Harapan, Kelakar, Kegalauan sekaligus Kebanggaan. Simbol-simbol itu diberi ‘nyawa baru’, reinterpretasi secara aktual, dan dijejalkan ke dalamnya segumpal harapan.</p>
<p>Ayip, sebagai pekerja kreatif di bidang desain visual yang hidupnya sebagian besar di depan screen computer, membawa kita merenungi Indonesia dengan ‘cara visual’. Ia menyuguhkan sebuah presentasi tentang sebuah Indonesia dari sudut lain. Layar computer adalah tempatnya merenung, bersedih, haru, berkelakar, dan dengan cara ini pula ia mencintai – yang akhirnya, lewat buku ini, ia mengajak kita ke halaman-halaman renungan.</p>
<p>Bisakah tampilan ‘visual keindonesiaan’ yang dipresentasikannya mewakili gelisah dan kecamuk perasaan warga bangsa? Bertepatan dengan 100 tahun ide Kebangkitan Indonesia, bertepatan dengan tercerai-berainya ide-ide mulia bertanah air satu dan untuk bersama menuju kebangunan jiwa, bertepatan dengan hilangnya makna dan terkaitan masyarakat Indonesia dengan symbol-simbol kebangsaan kita, sekumpulan ekspresi yang dihimpunnya sebagai buku ini terasa relevan.</p>
<p>Lihat saja ‘Indonesia yang terjemur-tergantung’, <strong>For Lease 100 Years</strong>. Pulau-pulau besar di Indonesia seperti jemuran pakaian di kawasan urban. Katulistiwa menjadi tali, dan Indonesia berkibar tergantung. Katulistiwa bukan lintasan matahari yang berkilau, tapi arakan mendung yang pucat. Demikian juga <strong>On Regular Maintenance</strong>, lambang Negara Kesatuan Republik Indonesia, berupa Garuda Pancasila, sedang dipreteli. Perisai tergeletak. Lima symbol pada perisai sedang digantung (dijemur ataukah diobral?). Apa maksud Ayip dengan kepulauan dan simbol-simbol negera yang tergantung ini? Kata tergantung dalam bahasa Indonesia bisa bermakna depend on, bisa juga bermakna hanging, dua situasi yang tidak berpunya kekuatan untuk memilih, cenderung pada kekuatan dari luar untuk menentukannya. Rentan basah diguyur badai, rentan tersapu angin, rentang koyak porak poranda.</p>
<p>Ayip menyuguhkan kembali heroism bamboo runcing, yang mulai terlupakan dan tergantikan heroism Robo Cop atau Superman. Bambu runcing mewakili situasi pejuang kemerdekaan Indonesia yang minim persenjataan, sehingga sebagian besar laskar sering terpaksa bersenjata bambu yang diruncingkan (atau sering disebut pasukan bambu runcing). Bambu runcing, untuk setidaknya 4 dekade, menjadi imaji paling heroic yang tertanam di kepala masyarakat Indonesia. Buku-buku pelajaran sekolah, dari SD sampai SMA, tentang sejarah kemerdekaan tak lepas dari drawing atau sket bambu runcing: Seorang pejuang yang gagah berani memegang bambu runcing menerjang tak gentar ke medan perang. Ada Merah Putih terkait di bambu itu. Film-film yang berkisah tentang kemerdekaan Indonesia seperti Janur Kuning, Serangan Fajar, sampai yang terkini, Naga Bonar, masih menyuguhkan panji-panji kepahlawanan yang dicitrakan dengan bambu runcing. Bambu runjing adalah tombak alami masyarakat Nusantara, yang konon, paling membuat bergidik bangsa Belanda. Termaktud di dalamnya juga sebuah keyakinan, sekebal apapun seseorang akan punah ilmunya diujung bambu. Dalam benak Ayip ada juga bambu runcing. Ia mencita-citakan bambu ini tergantikan oleh pencil. Di ujung runcing bambu, ia memberi caption ini: <strong>Fighting for Freedom</strong>, berlatar gelap. Di sebelahnya, sebuah pensil runcing dengan kemiringan yang sama, ketajaman yang sama, berlatar terang, bercaption: <strong>Freedom of Fighting</strong>.</p>
<p>Runcing bambu (alat pembunuh) menjadi runcing pencil (alat pencerah) adalah sebuah presentasi ide yang berhasil menyuguhkan sebuah cita-cita dan arah progresivitas kebangsaan yang ideal. Ada ‘formula kebangsaan’ yang hendak disuguhkan dalam beberapa halaman-halaman (terpenting) buku ini: dari pekik ‘merdeka atau mati’ menuju ‘intelektualitas’ serta ‘kebebasan berekspresi; dan sebuah asa ‘habis gelap terbitlah terang’.</p>
<p>Ayip mengidamkan arah perjalanan bangsa ini dari bambu berdarah (kekerasan), yang identik dengan slogan ‘merdeka atau mati’, ke wilayah pensil penanda ‘kebebasan berekspresi’ dan pendidikan. Sementara, pencil juga adalah penanda ‘pendidikan’. Kitapun diajak terkenang pada surat-surat Kartini yang ditulis dengan ‘pencil’.</p>
<p>Kartini, sebagai seorang perempuan Jawa yang terjepit sangkar feodalisme, ia memimpikan kesetaraan antar peremuan dan laki-laki dalam mendapat akses pendidikan, sangat terkenal dengan kumpulan ‘mimpi’ dan cita-citanya dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang. Suatu hari di tahun 1900 Kartini menulis: “Andai aku anak laki-laki, aku tak akan berpikir dua kali untuk segera menjadi seorang pelaut.” Pelaut adalah lambang kekebasan merengkuh samudera tanpa batas. Ia memimpikan sekolah untuk para perempuan. Semenjak era itu seorang perempuan telah bersenjata ‘pencil’, mengekpresikan pikiran dan idenya. Dia menulis surat untuk sahabatnya di negeri Belanda. Surat menyurat antara Jepara (Jawa) dan Belanda ini, menggambarkan bagaimana ‘relasi’ Barat-Timur. Memecah tembok antar penjajah dan terjajah, dan selanjutnya memecah tembok tebal laki-perempuan, cikal bakal renungan kesetaraan dan akses pendidikan untuk semua. Keyakinan bahwa dengan ‘pencil’ (yang berasosiasi dengan pikiran, ekpresi, kecerdasan, bukan otot atau jenis kelamin) sebagai jalan dan tujuan dari kemerdekaan telah ditampilkan Kartini. Ah, barangkali Kartini akan senang, seandainya sempat melihat abstraksi Ayip yang digambarkan dengan bendera Merah Putih diikat di ujung pencil, bukan bambu runcing sebagaimana gambaran perang kemerdekaan yang ada dalam film atau buku ajar sekaloh. Pencil lebih mencintrakan keteduhan dan kelembutan, dibanding bambu runcing yang mengesankan ‘phallus’, sangat laki-laki.</p>
<p>Dalam halaman lain, dengan <strong>Entering Bright Zone</strong>, Ayip kembali mengulang ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’. Garuda Pancasila meluncur dari layar hitam ke putih. Sebuah gambar hitam putih, yang membawa haru, bukan gemerlap. Pada ‘kontruksi’ lain, huruf I-N-D-O-N-E-S-I-A telah ‘di-reproduksi’ menjadi menjadi tangga naik. Sebuah gambaran yang merangkum, barangkali, seluruh harapan rakyat Indonesia akan bangsanya.</p>
<p>Ada beberapa karya dalam buku ini yang menyuguhkan rasa ‘karikatural’, tapi tetap di dalamnya ada kedalaman, ada keseriusan dalam ‘menimbang bangsa’. Tumpukan jengkel dan muram, kebimbangan, bercampur harapan, cukup terasa di sana sini. Layar computer, bagi Ayip, telah menjelma menjadi ‘layar pergulatan’, layar pertarungan harapan dan kesegalauan. Sangat jelas, Ayip bukan orang yang pesimis. Hampir dalam semua pergulatannya, ia tetap berusaha menyisipkan harapan. Harapan, kata inilah yang barangkali akan membuat bangsa ini tetap utuh.</p>
<p>Apa yang sedang diusahakan Ayip? Di tengah situasi simbol keindonesiaan yang merapuh, terkoyaknya harapan, dan kaburnya makna kata kepahlawanan, Ayip menggalinya dengan ‘reproduksi simbol’ keindonesiaan dari ‘apa yang ada’. Ayip, sadar atau tidak sadar, sedang membangkitkan mumi, simbol-simbol yang lama kehilangan bunyi. Walaupun kadang ada kemangkelan, pedih dan haru, HARAPAN &amp; CINTA di balik semua karyanya penting untuk kita simak. Dan, sekalipun (terlalu) sering kita kecewa dengan (pemimpin) bangsa ini, Ayip seakan mengajak kita mempertahankan harapan, ia memberi contoh bagaimana ‘jengkel dengan cara artistik’, bukan membakar ban di jalanan.</p>
<p><em>Sugi Lanus adalah peneliti budaya yang bekerja secara independen.</em></p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p><strong>ACKNOWLEDGEMENTS</strong></p>
<p>Buku ini adalah keajaiban. Memutuskan menjadikan kumpulan karya ke dalam sebuah buku adalah pekerjaan sukar dibayangi rasa “bersalah” mempublikasikan karya sendiri di tengah pekerjaan kebiasaan mempublikasikan hasil karya orang lain. Tapi atas dorongan para karib demi “membagi sudut pandang” sebagai oknum yang mengakrabi visual dan desain -katanya begitu- buku ini penting diadakan.</p>
<p>Dan tidak diragukan lagi bahwa keberadaannya merupakan anugerah Yang Maha Kuasa dengan didorong oleh semangat sang istri dan ananda tercinta Aty + Khaka, keluarga Matamera Communications juga campur tangan yang hebat dari Sugi Lanus, M. Bundhowi, Somadita, Toio, Warih, Riki Damparan, Rido Najemi, Agus Wartajazz + Jalamaya, <a href="http://cyberandal.net/">cyberandal.net</a> dan sahabat Hanny Kardinata dan situs DGI.</p>
<p>Buku ini saya dedikasikan untuk para desainer di Indonesia dan ADGI sebagai bagian dari perjuangan profesi kita bersama dan tentunya bagi orang tua saya yang telah menjadikan saya sebagai bangsa Indonesia sedari lahir juga saudara senasib bangsa Indonesia.</p>
<p>Tak terlupakan mereka yang mendedikasikan waktu dan semangatnya dengan kritik dan saran yang membangun juga dorongan moril termasuk materil: Yoke Darmawan - D&amp;A Associates, Ratna Murti - Arkadena, Jeff &amp; Chris - BEDO, Dan para sahabat inspiratif saya: Kang Irvan Noe’man, Pak Guntur Santosa, Yoka Sara, Ketut Siandana, Popo Danes, Gatot Surarjo, Putu Adi, Frans Nadjira, Made Budhiana, Suardi, serta banyak lagi yang barangkali saya tak mengingatnya saat ini.</p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p><strong>PUBLISHER</strong></p>
<p>MatameraBook adalah penerbit indie yang menerbitkan karya-karya terkait dengan seni dan budaya dan utamanya berbasis di Bali. Dirintis 1999 untuk menggairahkan penerbitan yang berbasis komunitas serta mendorong publisitas karya-karya berkualitas. Saat ini tengah mempersiapkan 2 buku arsitektur dan satu buku mengenai ekowisata di Bali.</p>
<p>Buku buku yang pernah diterbitkan antara lain:</p>
<p>1. <strong>A Bonsai’s Morning</strong> – Antologi puisi, 1996<br />
2. <strong>Springs of Tears, Springs of Fire</strong> – Kumpulan puisi Frans Nadjira dalam dua bahasa. Diedit dan diterjemahkan oleh Tom Hunter Jr<br />
3. <strong>Mangu Putra; Nature, Culture, Tension</strong>, Arif Bagus Prasetyo &amp; Jezz Gallery.<br />
4. <strong>Popo Danes</strong> – Arsitektur Sinkretik, 2001<br />
5. <strong>Bali Dalam Dua Dunia</strong>, bekerjasama dengan museum Kulturen Der Basel, diedit oleh Urs Ramseyer dan Panji Tisna,<br />
6. <strong>Bercakap-cakap Di bawah Guguran Daun-daun</strong> – Kumpulan cerita pendek Frans Nadjira<br />
7. <strong>Stephan Spicher</strong> – Eternal Line, Trilogi karya pelukis Stephan Spicher Switzerland, 2005<br />
8. <strong>Curriculum Vitae</strong> – Kumpulan puisi Frans Nadjira dalam Bahasa Inggris &amp; Indonesia, 2007<br />
9. <strong>Ekowisata Desa: Memiliki Kembali Bali</strong>, bersama Wisnu Press, 2008</p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p><strong>BOOK ORDER</strong></p>
<p>Cara memesan buku <strong>I See Indonesia</strong> bisa dilihat pada: <a href="http://www.iseeindonesia.com">I See Indonesia</a>.</p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p>Ref: <a href="http://www.ayipbali.com/">Ayip/Matemera Communications</a> – <a href="http://www.iseeindonesia.com/">I See Indonesia</a></p>
<p>•••</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2701/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2701/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2701/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2701/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2701/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2701/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2701/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2701/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2701/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2701/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2701/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2701/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=desaingrafisindonesia.wordpress.com&blog=853670&post=2701&subd=desaingrafisindonesia&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://desaingrafisindonesia.wordpress.com/2008/05/20/memperingati-100-tahun-kebangkitan-nasional-indonesia-peluncuran-online-buku-i-see-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/hannykardinata-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">hannykardinata</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-salam-pembuka.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-cover.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-ri-unity.gif" medium="image" />

		<media:content url="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-ri-tanah-air-kita.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-ri-bamburuncing.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-ri-garuda-rest.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-ri-laundry-sky.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-ri-mendung-gagah.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-ri-moving-garuda.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-ri-pancasila.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-ri-proklamasi.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-lovehope.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-oh-supersemar.gif" medium="image" />

		<media:content url="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-oh-tomakeitbright.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-current-climate.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-only1ndonesia.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-only1-hospitality.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-only1bali.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-only1people.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-only1-borobudur.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-type.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-type1.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-type2.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-type-100ina.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-type-all-love.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-type-balance.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-type-can.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-type-ill-do-it-right.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-type-jangan-omong.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-type-merdeka.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-type-pencil.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-type-stairway.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-type-yes-indonesia-1.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-ps-president.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-ps-drive-carefully.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ina-ps-pemimpin-masa-kini.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Lomba Desain Poster dan Slogan &#8220;POPS 2008&#8243;: Nge-drugs? Gak deh!</title>
		<link>http://desaingrafisindonesia.wordpress.com/2008/05/16/lomba-desain-poster-dan-slogan-pops-2008-nge-drugs-gak-deh/</link>
		<comments>http://desaingrafisindonesia.wordpress.com/2008/05/16/lomba-desain-poster-dan-slogan-pops-2008-nge-drugs-gak-deh/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 May 2008 10:08:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hannykardinata</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[News]]></category>

		<category><![CDATA[anti narkoba]]></category>

		<category><![CDATA[desain grafis]]></category>

		<category><![CDATA[Lomba Desain Poster]]></category>

		<category><![CDATA[lomba slogan]]></category>

		<category><![CDATA[teknologi cetak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://desaingrafisindonesia.wordpress.com/?p=2697</guid>
		<description><![CDATA[
PRINTING OLYMPIC PAZIA SAMSUNG (POPS) 2008 - Slogan and Poster Competition: Nge-drugs? Gak deh!
PENDAHULUAN
Narkotika yang paling sering digunakan di Indonesia adalah marijuana (ganja) dengan perkiraan 1.3% dari total populasi yang menggunakannya, sesuai laporan UNODC dalam Laporan Narkotika Dunia 2006. Zat Amphetamine (shabu) dan ekstasi juga mempunyai frekuensi pengguna yang tinggi, karena kedua zat tersebut dikonsumsi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/pops2008-banner.jpg"><img src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/pops2008-banner.jpg?w=600&h=199" alt="" width="600" height="199" class="alignnone size-full wp-image-2699" /></a></p>
<p><strong>PRINTING OLYMPIC PAZIA SAMSUNG (POPS) 2008 - Slogan and Poster Competition: Nge-drugs? Gak deh!</strong></p>
<p>PENDAHULUAN<br />
Narkotika yang paling sering digunakan di Indonesia adalah marijuana (ganja) dengan perkiraan 1.3% dari total populasi yang menggunakannya, sesuai laporan UNODC dalam Laporan Narkotika Dunia 2006. Zat Amphetamine (shabu) dan ekstasi juga mempunyai frekuensi pengguna yang tinggi, karena kedua zat tersebut dikonsumsi oleh 0.6% dari populasi, sementara putaw yang juga sudah tersebar meluas, dikonsumsi oleh 0.2% dari jumlah penduduk Indonesia. (sumber: Yayasan Cinta Anak Bangsa/YCAB) </p>
<p>Data BNN RI tahun 2004 menunjukkan bahwa 1,5% dari jumlah penduduk Indonesia terlibat penggunaan narkoba (3,2 juta orang). Data tahun 2005 menunjukan bahwa 15ribu orang tewas setiap tahun akibat penyalahgunaan narkoba. (sumber: BNN, Modul Untuk Orangtua-Memilih Lingkungan Bebas Narkoba. Hal 13. Poin B nomor 3 dan 4. Mengapa Narkoba Dilarang?). </p>
<p>Permasalahan pelik dan memprihatinkan seputar narkoba di Indonesia seakan tak putus bahkan terus merambah kepada generasi muda. Untuk itu diperlukan juga upaya tak henti untuk memenangkan peperangan ini. Dalam rangkaian menyambut Hari Anti Narkoba Internasional-Juni 2008, SAMSUNG Printer turut peduli menyelamatkan generasi Indonesia melalui upaya sosialisasi anti narkoba, cegah narkoba dalam kemasan acara Roadshow bernuansa teknologi dan kompetisi.</p>
<p>TUJUAN KEGIATAN<br />
Tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan gerakan anti narkoba melalui bidang IT dengan konsep acara yang mudah dan kreatif yang dapat meningkatkan sisi kreatifitas masyarakat pada umumnya dan terutama anak muda. </p>
<p>Memberikan wadah untuk menggali sisi kreatifitas masyarakat pada umumnya dengan disertai informasi mengenai narkoba yang dikemas sebagai hiburan.</p>
<p>BENTUK ACARA<br />
POPS 2008 bertema: <strong>Nge-drugs? Gak Deh</strong> adalah acara yang menyediakan sarana untuk mengasah keahlian, keterampilan dan kreatifitas dalam pemanfaatan teknologi cetakan dan desain grafis. </p>
<p>Diselenggarakan di sembilan kota besar di Indonesia termasuk Jakarta. Kompetisi final diselenggarakan di Jakarta, di mana seluruh pemenang dari tiap kota diundang memperebutkan<br />
hadiah-hadiah menarik dari panitia.</p>
<p>Dengan kategori Lomba: <strong>Slogan POPS 2008 dan Poster POPS 2008: Nge-drugs? Gak Deh.</strong> POPS 2008 juga diajukan untuk mendapat rekor MURI pada kategori Roadshow membawa 50 printer untuk mencetak slogan dan poster <strong>Nge-drugs? Gak Deh</strong> ke 9 kota di Indonesia.</p>
<p>WAKTU PENYELENGGARAAN<br />
Sabtu 24 Mei – Bandung. Tempat: CiWalk<br />
Kamis 29 Mei – Surabaya. Tempat: MCC<br />
Sabtu 31 Mei – Denpasar. Tempat: Ramayana Mall<br />
Kamis 24 Juli – Padang. Tempat: Universitas Putra Indonesia<br />
Sabtu 26 Juli – Medan. Tempat: Sun Plaza (masih dalam konfirmasi)<br />
Kamis 14 Agustus – Semarang. Tempat: Matahari Simpang Lima<br />
Sabtu 16 Agustus – Jogjakarta. Tempat: (masih dalam konfirmasi)<br />
Rabu 20 Agustus – Makassar. Tempat: MTC Karebossi<br />
Sabtu 23 Agustus - Jakarta (dua sessi termasuk Final). Tempat: Citos (masih dalam konfirmasi)</p>
<p><strong>Jam Acara:</strong><br />
Di kota-kota selain Jakarta mulai jam 12.30 – 17.30 wib<br />
Di Jakarta sessi I mulai jam 09.00 – 13.00 wib. Acara Final akan berlangsung pk 13.00 – 18.00 wib</p>
<p>IKON SELEBRITIS:<br />
Beberapa speaker selebritis yang peduli turut mengkampanyekan anti narkoba dan bergabung dalam<br />
POPS 2008 adalah: Marcell (Bandung), Melanie Subono (Surabaya, Denpasar, Medan, Jakarta). Sementara Icha–Jikustik (Semarang), Levy - the Fly (Jogjakarta), Ridho-Slank dan Fadli-Padi dalam<br />
konfirmasi.</p>
<p>POPS 2008<br />
Para peserta ditantang untuk mempersiapkan ide dan desain sebaik-baiknya untuk dicetak pada hari<br />
POPS 2008. Pada POPS 2008 mereka akan melengkapi desain dengan logo utama <strong>Samsung Laser Printer</strong> yang harus diperoleh melalui kegiatan “perburuan”.</p>
<p>Dengan PERSYARATAN &amp; TATA CARA LOMBA POPS SLOGAN dan POPS POSTER sebagai berikut:<br />
1. Slogan/Poster yang disertakan dalam POPS 2008 adalah karya original.<br />
2. Pemberian nama file untuk SLOGAN:  atau .<br />
3. Pemberian nama file untuk POSTER: .<br />
4. Karya kreatifitas SLOGAN bisa hitam putih atau berwarna.<br />
5. Karya kreatifitas POSTER berwarna, bukan foto.<br />
6. Hasil karya sudah dilengkapi logo: PAZIA, BNN dan YCAB. File dapat di-copy dari panitia.<br />
7. Peserta harus berada di lokasi untuk melengkapi hasil karya dengan logo utama yang akan<br />
diperoleh pada saat POPS 2008 berlangsung di kota Anda.<br />
8. Untuk itu, <strong>sediakan ruang/tempat pada hasil karya untuk menempatkan logo utama:<br />
Samsung Laser Printer.</strong><br />
9. Hasil karya diserahkan dalam ukuran A4.<br />
10. Hasil karya dalam bentuk digital (CD) diserahkan kepada panitia paling lambat 3 hari sebelum<br />
hari diselenggarakannya lomba yaitu:</p>
<p>21 Mei – Bandung<br />
26 Mei – Surabaya<br />
28 Mei – Denpasar<br />
21 Juli – Padang<br />
23 Juli – Medan<br />
11 Agust – Semarang<br />
13 Agust – Jogjakarta<br />
17 Agust – Makassar<br />
20 Agustus – Jakarta<br />
11. Hasil karya dicetak pada hari-H pelaksanaan <strong>POPS 2008</strong>.<br />
12. Tuliskan nama dan nomor formulir pendaftaran pada stiker CD, menggunakan spidol permanen.<br />
13. Pemenang harus mengambil sendiri hadiahnya/tidak bisa diwakilkan. Jika pemenang tidak hadir<br />
maka dianggap gugur.<br />
14. Peserta membawa HP dengan fasilitas bluetooth saat hadir pada hari-H <strong>POPS 2008</strong>.<br />
15. Hasil karya menjadi hak milik panitia penyelenggara dan dapat digunakan sebagai salah satu<br />
media kampanye anti narkoba di kemudian hari<br />
16. Hasil penilaian juri tidak dapat diganggu gugat</p>
<p><strong>Hadiah untuk pemenang di tiap kota:</strong><br />
Untuk satu orang pemenang Lomba Slogan: 1 unit SAMSUNG ML1640. Sedangkan untuk pemenang Lomba Poster berhadiah: 1 unit SAMSUNG CLP300. Pemenang dari tiap daerah akan diundang ke Jakarta untuk mengikuti grand final dengan akomodasi dari panitia.</p>
<p><strong>Hadiah Grand Final</strong><br />
<strong>Lomba Poster:</strong><br />
Juara 1 - Uang Tunai Rp 15.000.000<br />
Juara 2 - Uang Tunai Rp 10.000.000<br />
Juara 3 - Uang Tunai Rp 5.000.000</p>
<p><strong>Lomba Slogan:</strong><br />
Juara 1 - Uang Tunai Rp 5.000.000<br />
Juara 2 - SAMSUNG CLP300<br />
Juara 3 - SAMSUNG CLP 565</p>
<p><strong>Anggota Juri</strong><br />
• Hanny Kardinata (Desainer Indonesia)<br />
• Hermawan Tanzil (Desainer Indonesia)<br />
• Michael S. Sunggiardi (Praktisi Komputer)<br />
• Wakil dari Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB)<br />
• Wakil dari Badan Narkotika Nasional (BNN)<br />
• Wakil dari PT. Pazia Pillar Mercycom (selaku penyelenggara)</p>
<p>Peserta yang akan ambil bagian dapat menghubungi PT Samsung Electronics Indonesia di nomor (021) 5299 1777 atau PT Pazia Pilar Mercycom di nomor (021) 6231 3117 untuk memperoleh informasi lebih lanjut. Dalam kesempatan itu, penyelenggara juga tengah menyiapkan alamat <a href="http://pops2008.kreativ.co.id">http://pops2008.kreativ.co.id</a> untuk pencarian informasi selengkapnya.</p>
<p><em>Sumber: Press Release yang didistribusikan saat Press Conference, Kamis, 15 Mei 2008, F-Bar, eX Plaza Jakarta.</em></p>
<p>•••</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2697/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2697/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2697/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2697/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2697/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2697/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2697/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2697/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2697/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2697/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2697/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2697/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=desaingrafisindonesia.wordpress.com&blog=853670&post=2697&subd=desaingrafisindonesia&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://desaingrafisindonesia.wordpress.com/2008/05/16/lomba-desain-poster-dan-slogan-pops-2008-nge-drugs-gak-deh/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/hannykardinata-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">hannykardinata</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/pops2008-banner.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Profil FDGI (Forum Desain Grafis Indonesia)</title>
		<link>http://desaingrafisindonesia.wordpress.com/2008/05/14/profil-fdgi-forum-desain-grafis-indonesia/</link>
		<comments>http://desaingrafisindonesia.wordpress.com/2008/05/14/profil-fdgi-forum-desain-grafis-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 May 2008 23:27:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hannykardinata</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[FDGI (Forum Desain Grafis Indonesia/Indonesian Graphic]]></category>

		<category><![CDATA[History]]></category>

		<category><![CDATA[History of Graphic Design in Indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[FDGI]]></category>

		<category><![CDATA[Forum Desain Grafis Indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://desaingrafisindonesia.wordpress.com/?p=2570</guid>
		<description><![CDATA[
FORUM DESAIN GRAFIS INDONESIA
“Memberi dan mewadahi inspirasi untuk kemajuan desain grafis di Indonesia.”
Fokus kegiatan
Meningkatkan kualitas studi dan edukasi tentang desain grafis.
Konsep Organisasi
FDGI: forum terbuka untuk semua orang (tak harus desainer grafis) yang merasa bertanggung jawab dan peduli terhadap perkembangan peran desain grafis untuk kemajuan bangsa Indonesia.
FDGI: forum kreatif yang bertujuan untuk dapat melahirkan dan mewujudkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/logo-fdgi.gif"><img src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/logo-fdgi.gif?w=274&h=300" alt="" width="274" height="300" class="alignnone size-medium wp-image-2571" /></a></p>
<p>FORUM DESAIN GRAFIS INDONESIA<br />
“Memberi dan mewadahi inspirasi untuk kemajuan desain grafis di Indonesia.”</p>
<p><strong>Fokus kegiatan</strong><br />
Meningkatkan kualitas studi dan edukasi tentang desain grafis.</p>
<p><strong>Konsep Organisasi</strong><br />
FDGI: forum terbuka untuk semua orang (tak harus desainer grafis) yang merasa bertanggung jawab dan peduli terhadap perkembangan peran desain grafis untuk kemajuan bangsa Indonesia.<br />
FDGI: forum kreatif yang bertujuan untuk dapat melahirkan dan mewujudkan gagasan dalam hal:<br />
(1) pengembangan kualitas desainer grafis (terutama dalam hal wawasan dan<br />
tanggungjawab profesi),<br />
(2) pengembangan hubungan transfer wawasan - teknologi antara lingkup praktik dan<br />
edukasi, serta<br />
(3) pemasyarakatan fungsi sosial budaya dari desain grafis di Indonesia.</p>
<p><strong>Sejarah FDGI</strong><br />
• Tahun 2000: Menjadi wacana, diprakarsai oleh 3 desainer grafis yang juga akademisi.<br />
• Tahun 2000-2002: Keinginan mempunyai suatu wadah yang dapat memfasilitasi desainer grafis Indonesia<br />
• Tahun 2003: 7–14 Juni, Kegiatan pertama digelar: Pameran Poster <strong>“Melihat Indonesia Damai”</strong> di Bentara Budaya, pameran 100 karya poster dan sarasehan <strong>“Melihat poster dari dekat”.</strong></p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/poster-damai-1.gif"><img src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/poster-damai-1.gif?w=360&h=539" alt="" width="360" height="539" class="alignnone size-full wp-image-2573" /></a></p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p><strong>• Pameran Poster: Light of Hope for Indonesia</strong><br />
7 - 11 September 2005, Arena FGD Expo 2005, Jakarta.<br />
Pameran poster Internasional yang diikuti sekitar 40 desainer Indonesia dan 30 desainer Internasional, menyampaikan pesan harapan setelah beberapa bencana yang menimpa Indonesia.</p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/light-of-hope.gif"><img src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/light-of-hope.gif?w=539&h=360" alt="" width="539" height="360" class="alignnone size-full wp-image-2574" /></a></p>
<p>Selengkapnya lihat: <a href="http://desaingrafisindonesia.wordpress.com/2008/01/02/a-report-of-light-of-hope-for-indonesia/">A Report of “Light of Hope for Indonesia”</a></p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p><strong>• FDGI &amp; Friends #14</strong><br />
<strong>Jika Desain Anda Dicuri</strong> (Aspek HAKI dalam Desain Grafis).<br />
Jumat 28 September 2007, 19.00, Kedai Mitra, Gedung Mitra Hadiprana, Kemang.</p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/poster-haki.gif"><img src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/poster-haki.gif?w=360&h=502" alt="" width="360" height="502" class="alignnone size-full wp-image-2575" /></a></p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p><strong>• FDGI &amp; Friends #15</strong><br />
Mencari rasa lokal di pujasera komik global (talkshow &amp; pameran seputar komik, ilustrasi dan kartun).<br />
Sabtu 2 Februari 2008, 14.00, Emax Store, Kemang Arcade, Kemang.</p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/poster-komik.gif"><img src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/poster-komik.gif?w=360&h=514" alt="" width="360" height="514" class="alignnone size-full wp-image-2576" /></a></p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p><strong>• FDGI &amp; Friends #16</strong><br />
<strong>Antropografis</strong> (Kaitan Antropologi dan Desain Grafis, talkshow dengan 4 nara sumber: Iman M. Pirous dosen Antropologi UI, Arief Adityawan dosen DKV Untar, Duvan Desela art director Lines Advertising, dan Daud Budi Surya alumni ITB, pemenang pertama lomba 1001 cover majalah Concept)<br />
Sabtu 26 April 2008, 14.00, Emax Store, Kemang Arcade, Kemang.</p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/poster-antropografis.gif"><img src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/poster-antropografis.gif?w=360&h=496" alt="" width="360" height="496" class="alignnone size-full wp-image-2577" /></a></p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p><strong>• Share!</strong><br />
Newsletter yang dibagikan dalam beberapa acara FDGI&amp;Friends, bertujuan untuk menghidupkan budaya <strong>&#8216;desainer yang menulis&#8217;</strong>, juga merupakan medium komunikasi antar anggota FDGI. Terbit pertama di tahun 2004, sampai Maret 2008 ini telah terbit 6 edisi.</p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/share03-04.gif"><img src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/share03-04.gif?w=600&h=454" alt="" width="600" height="454" class="alignnone size-full wp-image-2578" /></a></p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p><strong>• Stiker merdeka</strong><br />
17 Agustus 2006, Jakarta.<br />
Program perwujudan manfaat desain grafis untuk publik, dengan menggunakan stiker sebagai upaya menyampaikan pesan tentang kemerdekaan bangsa Indonesia.</p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/stiker-merdeka-1.gif"><img src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/stiker-merdeka-1.gif?w=250&h=303" alt="" width="250" height="303" class="aligncenter size-full wp-image-2579" /></a></p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/stiker-merdeka-2.gif"><img src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/stiker-merdeka-2.gif?w=250&h=289" alt="" width="250" height="289" class="alignnone size-full wp-image-2580" /></a></p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p><strong>• Komik Jam Strip Kemerdekaan</strong><br />
17 Agustus 2007, Gedung Mitra Hadiprana, Kemang.<br />
Kegiatan membuat komik secara berantai bertemakan kemerdekaan, diikuti oleh mahasiswa, dosen dan desainer grafis di Jakarta, sebagai upaya menyampaikan pesan tentang kemerdekaan bangsa Indonesia.</p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/komik-jam.gif"><img src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/komik-jam.gif?w=600&h=416" alt="" width="600" height="416" class="alignnone size-full wp-image-2581" /></a></p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p><strong>• Kunjung kampus</strong><br />
Januari 2007-sekarang.<br />
Rangkaian program pembangunan jaringan komunikasi antar kampus, sekaligus medium riset dinamika edukasi desain grafis di Indonesia. Selama tahun 2007 berkunjung ke Ubinus, Untar, Usakti, ITHB &amp; ITB (Bandung).</p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p><strong>• Indonesia Printer Design Awards 2007</strong><br />
Juni-Agustus 2007, Jakarta.<br />
Lomba Desain tingkat nasional untuk mahasiswa desain grafis, bekerjasama dengan pihak industri untuk meningkatkan apresiasi terhadap karya desain grafis, mengaktifkan kegiatan dan kompetisi di lingkup mahasiswa.</p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ipda-07.gif"><img src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ipda-07.gif?w=600&h=357" alt="" width="600" height="357" class="alignnone size-full wp-image-2582" /></a></p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p><strong>FDGI 2008</strong></p>
<p>• <strong>Gratik Design Worskshop</strong><br />
di <a href="http://desaingrafisindonesia.wordpress.com/2008/03/15/gratik-design-workshop-at-campus/">UPH 25-26 Februari 2008</a><br />
di <a href="http://desaingrafisindonesia.wordpress.com/2008/03/15/gratik-design-workshop-at-campus/">Untar 29 Februari-1 Maret 2008</a><br />
di <a href="http://desaingrafisindonesia.wordpress.com/2008/03/15/gratik-design-workshop-at-binus/">Ubinus 31 Maret-1 April 2008</a><br />
di <a href="http://desaingrafisindonesia.wordpress.com/2008/03/15/gratik-design-workshop-at-trisakti/">Usakti 4-5 Arpil 2008</a></p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p>• Pemutaran dan pembahasan film <strong>Helvetica</strong>, di Auditorium Gedung O Kampus 1 Untar, 3 Maret 2008, kerjasama FDGI &amp; FSRD Tarumanagara.</p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/poster-helvetica.gif"><img src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/poster-helvetica.gif?w=600&h=427" alt="" width="600" height="427" class="alignnone size-full wp-image-2591" /></a></p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p>• Co-organizer <strong>Lomba Poster Lingkungan Hidup Laut DEEP Indonesia 2008</strong> untuk mahasiswa desain di Jakarta, kerjasama Xnet &amp; FDGI. Pameran 20 finalis di ajang DEEP Indonesia 2008, 28-30 maret, pengumuman pada 30 maret 2008.<br />
Juara 1: Julius Tomo Ishak (UPH),<br />
Juara 2: Monica Octaviani (Ubinus),<br />
Juara 3: Fernand Sulaiman (UPH). </p>
<p>Karya finalis dapat dilihat di situs DGI: <a href="http://desaingrafisindonesia.wordpress.com/2008/03/26/finalis-lomba-poster-digital-deep-indonesia-2008/">Finalis Lomba Desain Poster Digital “DEEP Indonesia 2008″</a></p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p>• Menerbitkan <strong>Buku 100 Karya Terbaik IPDA 2007</strong>, Maret 2008</p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p>• Mendukung launching buku <strong>Kamus Branding Mendiola B. Wiryawan</strong> (co-founder &amp; ex chairman FDGI), Maret 2008</p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p>• Mendukung launching buku <strong>Oud Batavia, Within the Walls</strong> karya JA Heuken yang didesain oleh Muryani (aktivis FDGI, alumni UPH), Juni/Juli 2008</p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/fdgi-yani-oudbataviawithint.gif"><img src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/fdgi-yani-oudbataviawithint.gif?w=600&h=432" alt="" width="600" height="432" class="alignnone size-full wp-image-2590" /></a></p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p>• Menerbitkan buku panduan <strong>Kreasi Visual dan Aspek HAKI-nya</strong>, dengan Bapak Agus Sardjono ahli HAKI dari FH-UI, Agustus 2008</p>
<p>Lihat: <a href="http://desaingrafisindonesia.wordpress.com/2008/03/16/diskusi-online-bersama-forum-desain-grafis-indonesia-fdgi-hak-kekayaan-intelektual-haki/">Diskusi Online bersama Forum Desain Grafis Indonesia (FDGI): HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL (HAKI)</a></p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p>• Organizer <strong>IPDA 2008</strong>, Lomba desain untuk mahasiswa dan Umum dalam rangka 25 tahun Indonesia Printer, Oktober 2008</p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p>• <strong>Travelearning</strong>, bekerjasama dengan beberapa kampus dan industri melakukan kunjungan sebagai berikut:<br />
<a href="http://desaingrafisindonesia.wordpress.com/2008/05/08/travelearning/">14 Desember 2007: DKV Trisakti visit percetakan flexible packaging PT Plasindo di Karawang</a><br />
<a href="http://desaingrafisindonesia.wordpress.com/2008/05/08/travelearning/">4 Maret 2008: DKV UPH visit percetakan offset PT Indonesia Printer di Jakarta</a><br />
<a href="http://desaingrafisindonesia.wordpress.com/2008/05/08/travelearning/">22 Maret 2008: DKV Untar visit percetakan offset PT Indonesia Printer di Jakarta</a><br />
<a href="http://desaingrafisindonesia.wordpress.com/2008/05/08/travelearning/">19 April 2008: DKV UPH visit percetakan sablon PT Master Grafika di Curug, Tangerang</a><br />
17 Mei 2008: DKV Untar visit percetakan web offset PT Gramedia di Cikarang, Bekasi<br />
23 Mei 2008: DKV Untar visit Afterhoursgroup &amp; Matari Advertising di Jakarta<br />
24 Mei 2008: DKV Untar visit percetakan sablon PT Master Grafika di Curug, Tangerang<br />
30 Mei 2008: DKV Untar visit Avigra Communication &amp; Castle Production di Jakarta</p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/dkvtrisakti-visitpercetakan.gif"><img src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/dkvtrisakti-visitpercetakan.gif?w=600&h=316" alt="" width="600" height="316" class="alignnone size-full wp-image-2592" /></a></p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p><strong>Sekretariat FDGI</strong><br />
Tebet Barat 5c No. 30<br />
Jakarta Selatan, Indonesia<br />
Ph.: +62 21 830 1696<br />
Fax: +62 21 830 1696<br />
fdgi@yahoogroups.com<br />
<a href="http://www.fdgi.info/org">www.fdgi.info/org</a><br />
<a href="http://www.desaingrafisindonesia.co.cc">www.desaingrafisindonesia.co.cc</a><br />
info@fdgi.info<br />
CP: Oline 0812 9930680/0815 19500 151/021 98538382</p>
<p>•••</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2570/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2570/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2570/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2570/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2570/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2570/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2570/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2570/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2570/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2570/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2570/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2570/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=desaingrafisindonesia.wordpress.com&blog=853670&post=2570&subd=desaingrafisindonesia&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://desaingrafisindonesia.wordpress.com/2008/05/14/profil-fdgi-forum-desain-grafis-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/hannykardinata-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">hannykardinata</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/logo-fdgi.gif?w=274" medium="image" />

		<media:content url="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/poster-damai-1.gif" medium="image" />

		<media:content url="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/light-of-hope.gif" medium="image" />

		<media:content url="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/poster-haki.gif" medium="image" />

		<media:content url="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/poster-komik.gif" medium="image" />

		<media:content url="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/poster-antropografis.gif" medium="image" />

		<media:content url="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/share03-04.gif" medium="image" />

		<media:content url="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/stiker-merdeka-1.gif" medium="image" />

		<media:content url="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/stiker-merdeka-2.gif" medium="image" />

		<media:content url="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/komik-jam.gif" medium="image" />

		<media:content url="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/ipda-07.gif" medium="image" />

		<media:content url="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/poster-helvetica.gif" medium="image" />

		<media:content url="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/fdgi-yani-oudbataviawithint.gif" medium="image" />

		<media:content url="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/dkvtrisakti-visitpercetakan.gif" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Book Review: &#8220;How Do They Think&#8221;</title>
		<link>http://desaingrafisindonesia.wordpress.com/2008/05/13/book-review-how-do-they-think/</link>
		<comments>http://desaingrafisindonesia.wordpress.com/2008/05/13/book-review-how-do-they-think/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 May 2008 03:00:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hannykardinata</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Journal]]></category>

		<category><![CDATA[Mosher Publishing]]></category>

		<category><![CDATA[Add new tag]]></category>

		<category><![CDATA[brand]]></category>

		<category><![CDATA[corporate identity]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://desaingrafisindonesia.wordpress.com/?p=2690</guid>
		<description><![CDATA[
.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   . [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/how-do-they-think1.gif"><img src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/how-do-they-think1.gif?w=300&h=483" alt="" width="300" height="483" class="alignnone size-full wp-image-2693" /></a></p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p>Judul: How Do They Think<br />
112 halaman<br />
Mosher, 2008</p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p>MEMBEDAH IDENTITAS<br />
oleh: Edwin Irvanus</p>
<p>Sejak sosoknya dikenali, orang-orang pun mulai sadar bahwa selain kualitas produk (output), maka faktor lain yang perlu dibangun oleh sebuah unit usaha adalah &#8216;jiwa&#8217; dari unit usaha tersebut ataupun produknya. Fenomena kejiwaan sebuah produk inilah yang disebut dengan brand. Beragam teori dan pengertian telah diluncurkan untuk menjelaskan fenomena brand. Ada yang membedahnya menggunakan pisau analisis ilmu ekonomi, sosiologi atau ilmu komunikasi. Namun pada prinsipnya, semua sepakat bahwa brand dibangun melalui identitas yang jernih dan upaya konsisten meyakinkan konsumen. Akhirnya mau tidak mau, para pelaku dunia usaha pun harus menerima keberadaan sebuah brand sebagai sebuah aset tak berwujud dari sebuah unit usaha.</p>
<p>Pembahasan mengenai brand akan dengan mudah menggiring kita membicarakan corporate identity. Pada dasarnya, semua pelaku dunia usaha meyakini bahwa corporate identity tidak secara langsung memberi nilai tambah pada sebuah produk dan menjadi komponen penentuan harga, namun merupakan alat marketing signifikan, yang pada gilirannya akan menggiring konsumen memilih sebuah produk, ketimbang produk lainnya.</p>
<p>Dalam komunikasi visual, sebuah corporate identity biasanya lahir dari sebuah proses panjang merajut beragam aspek. Mulai dari aspek fisik, psikis, material, mental dan berbagai aspek-aspek pertimbangan lain. Seluruh bahan pertimbangan itu, kemudian diformulasikan dengan tepat oleh tim komunikasi visual, sehingga lahirlah sebuah corporate identity. Proses yang cukup rumit ini, umumnya tidak dipahami secara utuh oleh masyarakat awam.</p>
<p>Namun bagi praktisi komunikasi visual, proses ini akan sangat menarik disimak. Bagaimana sebuah identitas dirumuskan, dikomunikasikan ke publik dan kemudian reaksi yang muncul dari komunikasi tersebut akan menjadi tolak ukur menilai kesuksesan sebuah identitas. Buku How Do They Think yang disunting trio desainer grafis muda, Herdi Sularko, Victor Prawata dan Michael Widranata berusaha menyingkap proses itu.</p>
<p>Dalam buku ini, kita akan mendapatkan pembahasan mendalam, meluas dan menyeluruh tentang bagaimana 9 identitas dirumuskan dan kemudian disampaikan kepada konsumen. Proses ini sendiri memberi pembelajaran yang sangat menarik. Simaklah bagaimana brand Centro Department Store dibangun dengan bermodalkan passion terhadap industri retail. Cermatilah pula bagaimana PT. Broadband Indonesia, Tbk. mengevaluasi merk dagang &#8220;Kabelvision&#8221; yang terlihat semakin serius dan tidak lagi tampil molek sebagai penyedia jasa hiburan multimedia, sehingga mereka merasa perlu meluncurkan identitas baru &#8220;First Media&#8221; yang lebih segar dan lifestyle driven. Atau bagaimana GarudaFood merasa perlu melakukan diferensiasi identitas dari salah satu produk unggulannya, &#8220;Kacang Garuda&#8221; dan bagaimana Panorama Leisure berusaha mengakomodasi seluruh anak perusahaannya dalam sebuah identitas tunggal yang mapan. Beragam desain corporate identity yang dibedah di buku ini adalah solusi komunikasi sebuah brand untuk mendekatkan diri dengan target konsumennya. Lebih dari itu, desain-desain ini mewakili sinergi dari optimisme dan keterampilan, serta upaya tanpa henti memperbaiki aspek-aspek penting dari proses marketing.</p>
<p>Kehadiran buku ini menjadi semacam angin segar dalam kajian komunikasi visual di Indonesia. Buku ini sendiri pada benang merahnya mengajak kita menilai bagaimana sebuah brand dirumuskan, dikembangkan dan yang terpenting dikomunikasikan. Tentunya diharapkan, akan semakin banyak corporate identity yang bisa dibedah dan diukur kedigdayaannya, sehingga pada gilirannya brand asal negeri kita tak hanya mampu menaklukkan pasar lokal, melainkan juga pasar global.</p>
<p>•••</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2690/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2690/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2690/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2690/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2690/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2690/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2690/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2690/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2690/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2690/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2690/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2690/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=desaingrafisindonesia.wordpress.com&blog=853670&post=2690&subd=desaingrafisindonesia&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://desaingrafisindonesia.wordpress.com/2008/05/13/book-review-how-do-they-think/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/hannykardinata-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">hannykardinata</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/how-do-they-think1.gif" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Lokalitas Budaya Lokal dalam Desain Iklan</title>
		<link>http://desaingrafisindonesia.wordpress.com/2008/05/13/lokalitas-budaya-lokal-dalam-desain-iklan/</link>
		<comments>http://desaingrafisindonesia.wordpress.com/2008/05/13/lokalitas-budaya-lokal-dalam-desain-iklan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 May 2008 01:11:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hannykardinata</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Journal]]></category>

		<category><![CDATA[Sumbo Tinarbuko]]></category>

		<category><![CDATA[budaya lokal]]></category>

		<category><![CDATA[iklan Indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://desaingrafisindonesia.wordpress.com/?p=2692</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Sumbo Tinarbuko
’’Apakah mungkin budaya lokal mampu menjadi inspirasi iklan Indonesia?’’
’’Kalau pun mungkin, apakah tidak terlihat ndeso?’’
’’Kalau pun mungkin, bagaimana pula caranya?’’
’’Caranya gampang bos, alias mudah!’’
’’Konkretnya gimana, hayo?’’
’’Konkretnya?’’
’’Ya &#8230; pahamilah rakyat (konsumen), dan budaya lokal bangsa Indonesia. Dengan mengamati, mencermati, mempelajari, memahami, bergaul, bersahabat, dan menjadi Indonesia, maka untuk mewujudkan cita-cita mulia menjadi 100% iklan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Oleh: Sumbo Tinarbuko</p>
<p><em>’’Apakah mungkin budaya lokal mampu menjadi inspirasi iklan Indonesia?’’</p>
<p>’’Kalau pun mungkin, apakah tidak terlihat ndeso?’’</p>
<p>’’Kalau pun mungkin, bagaimana pula caranya?’’</p>
<p>’’Caranya gampang bos, alias mudah!’’</p>
<p>’’Konkretnya gimana, hayo?’’</p>
<p>’’Konkretnya?’’</p>
<p>’’Ya &#8230; pahamilah rakyat (konsumen), dan budaya lokal bangsa Indonesia. Dengan mengamati, mencermati, mempelajari, memahami, bergaul, bersahabat, dan menjadi Indonesia, maka untuk mewujudkan cita-cita mulia menjadi 100% iklan Indonesia bukan perkara sulit. Gitu aja kok repot!’’</em></p>
<p>Berdasarkan dialog imajiner di atas, sejatinya dapat dipahami bahwa keberadaan iklan sangat lekat  dengan hidup dan kehidupan kita sehari-hari. Ia tak bisa lepas dari sejarah kehidupan umat manusia. Karena ia merupakan salah satu usaha manusia untuk meningkatkan kualitas hidup.</p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p>Terlihat model perempuan penari Bali yang sedang peye (payu: mendapat order menari) menarikan sebuah tarian Bali yang lemah gemulai dalam balutan gerak ritmis dinamis. Ketika ia sedang menari tari Bali, tiba-tiba suara radio panggil  berbunyi dan secara otomatis sang penari menghentikan gerakan gemulainya. Pesan yang tertulis di radio panggil itu berbunyi: ’’Sampai ketemu di diskotek, Daniel’’.</p>
<p>Gambaran tersebut merupakan bentuk kreatif iklan televisi alat komunikasi berbentuk radio panggil yang cukup terkenal di era 90-an dengan mengangkat tari Bali yang eksotis sebagai visualisasi iklan radio panggil. Tari Bali sebagai bagian dari seni tradisional dimanfaatkan oleh tim kreatif iklan radio panggil sebagai penarik pandang kepada target sasarannya. Dalam konteks ini, seni tradisi (tari Bali) diposisikan sebagai sumber inspirasi untuk memasuki wilayah privat kehidupan target sasaran yang hendak dibidik.</p>
<p>Ingatkah Anda dengan tokoh Cepot dalam gagrak wayang Golek? Si Cepot yang dicasting lucu, secara visual  semakin kocak ketika dimainkan oleh dalang kreatif Asep Sunarya. Kekocakan dan kelucuan si Cepot berikut dalangnya ‘’dieksploitasi’’ oleh tim kreatif iklan produk suplemen meningkatkan stamina tubuh dengan tagline yang terkenal saat itu: ’’lho, kok loyo!’’.</p>
<p>Iklan produk suplemen meningkatkan stamina tubuh ini dengan kesadaran penuh menampilkan karya seni tradisional dari Jawa Barat karena ingin menyelaraskan frekuensi antara personil wayang Golek si Cepot, dalang Asep Sunarya dengan target sasaran dari golongan status ekonomi sosial (SES) menengah ke bawah. Target sasaran  menengah ke bawah ini kecenderungannya bekerja dengan memanfaatkan tenaga otot, untuk itu diperlukan sebuah produk suplemen untuk menambah dan menjaga stamina tubuh agar tetap bugar, bersemangat, dan kuat bertenaga. Menjaga agar tubuh target sasaran tidak cepat loyo, lemas, dan tidak bertenaga.</p>
<p>Hal senada dilakukan pula oleh produk penghilang sakit flu yang kondang dengan slogan berbunyi: ’’Oskadon Pancen Oye!’’. Iklan produk tersebut menggandeng ‘’dalang edan’’ dari Karangpandan Surakarta, Ki Manteb Sudarsono, untuk menjadi juru bicara atas keberadaan produk penghilang sakit flu.</p>
<p>Dalam konteks ini wayang kulit yang merupakan salah satu produk karya seni tradisional yang masih banyak memiliki pendukung dan penonton setia, dirangkul oleh produsen obat flu sebagai media komunikasi visual untuk menginformasikan keberadaan sebuah obat flu yang memiliki khasiat meredakan penyakit flu. Sedangkan, Ki Manteb Sudarsono sebagai dalang dipinjam ketokohannya dan dijadikan model iklan tersebut, karena, Ki Manteb Sudarsono dianggap sebagai representasi target sasaran yang rawan diserang penyakit flu akibat jenis pekerjaannya yang mengharuskan  Ki Manteb Sudarsono untuk melekan, begadang sepanjang malam, dan melakukan perjalanan dari satu kota ke kota lain guna memainkan wayang kulit semalam suntuk.</p>
<p>Pernahkah Anda melihat tayangan cowboy penunggang kuda yang dijadikan model iklan rokok filter putih produksi Amerika yang terkenal itu? Sudahkan Anda menyaksikan iklan rokok filter putih yang menampilkan model seorang cowboy gagah menunggang kuda hitam menges-menges (hitam legam) sedang menggembalakan ribuan ternak yang menjadi tugasnya sehari-hari?</p>
<p>Ya. Pasti anda sering melihat atau terpaksa menyaksikan tayangan iklan tersebut di  beberapa layar televisi swasta, billboard, poster, majalah, tabloid, dan surat kabar. Selain melihat, so pasti, Anda (terutama paraperokok) yang merasa sebagai pria macho gagah perkasa dengan suka rela menjadi konsumen loyal. Ketika Anda ingin menghisap rokok, kemudian membeli rokok tersebut, maka sukseslah tim kreatif ini memosisikan Anda sebagai konsumen loyal. Sebagai seorang pria perokok macho dan gagah perkasa yang setiap saat mengkonsumsi rokok tersebut. Citra pria macho gagah perkasa yang direpresentasikan lewat cowboy berhasil menancap dengan sukses di dalam benak (ingat konsep positioning: bagaimana upaya produsen dengan segenap jajarannya menancapkan merek ke dalam pikiran target sasarannya) konsumen.</p>
<p>Masih terkait dengan model cowboy yang macho gagah perkasa dan masih bersinggungan dengan rokok filter putih produksi Phillip Morris yang berhasil membeli lebih 70 persen saham PT HM Sampoerna ini. Ternyata ada cerita menarik terkait dengan kreatif iklan rokok filter putih produksi Phillip Morris.</p>
<p>Apa menariknya? Menariknya, iklan tersebut menampilkan kuda kepang atau kuda lumping. Dongengnya begini, untuk mendekatkan dan memperluas target sasaran, digagaslah sebuah kreatif iklan yang tetap menampilkan kuda sebagai citra visual atas keberadaan produk rokok tersebut. Namun atas nama budaya lokal, kuda dan cowboy diterjemahkan ke dalam kuda lumping atau kuda kepang lengkap dengan penarinya.      </p>
<p>Visualisasi iklan rokok tersebut menghadirkan ratusan penari kuda lumping yang nyengkelit pecut (cambuk) dan menunggangi kuda kepang dalam kemasan tari kolosal kuda lumping yang diiringi gamelan komplit. Lokasi syuting mengambil tempat  di Alun-alun Selatan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.   </p>
<p>Di dalam benak tim kreatif  konsep dasar western dengan tampilan visual cowboy, kuda, dan ternak yang digembalakan didekonstruksi dan dibaca menjadi  sesuatu yang universal. Artinya, tayangan kreatif iklan rokok putih versi cowboy sejatinya sama sebangun dengan iklan serial kuda kuda lumping. Perbedaannya hanya terletak pada objek yang digembalakan. Iklan gaya Amerika: cowboy menunggang kuda menggembalakan ternak yang hidup di padang luas. Sedangkan gaya Indonesia : ternak dan cowboy divisualkan dengan penampilan penari kuda lumping yang menunggang kuda kepang dalam tarian kuda lumping secara kolosal. Titik singgung dari dua kebudayaan yang berbeda itu terletak pada bagaimana menerjemahkan secara visual kata ‘’kuda’’.  Pemahaman kata ‘’kuda’’ ini menjadi menarik dalam takaran kreatif periklanan. Hal itu selaras dengan peribahasa Jawa: ‘’desa mawa cara, negara mawa tata”.</p>
<p>Contoh kecil tersebut di atas menunjukkan pada kita, rakyat Indonesia,  bahwa karya seni tradisional, baik berbentuk seni pertunjukkan maupun seni rupa sesungguhnya layak dijadikan nara sumber, rujukan, dan sumber inspirasi proses kreatif pembuatan karya desain iklan.</p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p>Paparan di atas menunjukkan pada kita, rakyat Indonesia,  bahwa alam raya (gunung, bukit, gua, lautan, dataran tinggi, dataran rendah, danau, sungai), alam pedesaan yang eksotis (sawah, ladang, hutan, perkebunan), dan jejak-jejak kebudayaan peninggalan nenek moyang (arsitektur heritage, adat istiadat, beragam jenis upacara tradisional) layak dieksplorasi secara positif dan  dikembangkan sesuai dengan zamannya.</p>
<p>Dengan memanfaatkan potensi budaya lokal dan kesenian tradisional sebagai sumber energi kreatif penciptaan karya desain iklan, maka keunikan yang dimunculkan dari lokalitas budaya lokal berikut masyarakat pendukungnya akan memberikan kontribusi positif bagi perkembangan jagat periklanan Indonesia. Selain itu, ketika parakreator dan desainer iklan Indonesia senantiasa mengedepankan lokalitas budaya lokal semakin membuncahkan ciri khas dan keunikan periklanan Indonesia. Dampak turunannya akan muncul gerakan periklanan Indonesia mengedepankan konsep kreatif dengan pendekatan budaya lokal yang berbudaya.</p>
<p>Sebab sejatinya, iklan dan proses periklanan merupakan salah satu perwujudan kebudayaan massa. Artinya, sebuah kebudayaan yang  tidak hanya bertujuan menawarkan dan mempengaruhi calon konsumen untuk membeli barang atau jasa, tetapi turut juga mendedahkan nilai tertentu yang terpendam di dalamnya. Oleh karena itulah, iklan yang sehari-hari kita temukan di berbagai media massa cetak dan elektronik dapat dikatakan bersifat simbolik. Maknanya, iklan tersebut dapat menjadi simbol sejauh imaji yang ditampilkannya membentuk dan merefleksikan nilai hakiki.</p>
<p>Karena iklan mengemban tugas untuk menyampaikan pesan verbal maupun visual, maka keberadaannya senantiasa dikemas seartistik mungkin. Hal itu dilakukan agar menarik dan mampu membangkitkan rasa tertarik pada masing-masing pribadi, sehingga dapat menimbulkan stimulus dan reaksi untuk memberikan keputusan. Untuk itu, pesan verbal maupun visual yang ditampilkan dalam desain iklan dinyatakan dalam bahasa yang sederhana dan benar. Semua itu menjadi penting agar pesan-pesan tersebut mudah dimengerti oleh pembaca tanpa ada kesalahan interpretasi makna dari pesan tersebut.</p>
<p>Sebagai media komunikasi visual, maka keberadaan iklan menjadi media yang sangat efektif. Dengan demikian iklan mampu membawa masyarakat untuk berkomunikasi secara berbudaya dan dialogis, selanjutnya dimotivasi untuk melakukan suatu tindakan positif atas pengaruh komunikasi tersebut.</p>
<p>*)<a href="http://sumbo.wordpress.com/">Sumbo Tinarbuko</a>, Konsultan Desain, Dosen Desain Komunikasi Visual dan Program Pascasarjana ISI Yogyakarta.</p>
<p><em>Catatan:<br />
Artikel ini dipresentasikan di Jurusan Periklanan FISIP Undip Semarang tanggal 11 Mei 2008 dalam rangka memperbincangkan ’’Citarasa Lokal dalam Visual Iklan’’</em></p>
<p>•••</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2692/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2692/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2692/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2692/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2692/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2692/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2692/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2692/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2692/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2692/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2692/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2692/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=desaingrafisindonesia.wordpress.com&blog=853670&post=2692&subd=desaingrafisindonesia&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://desaingrafisindonesia.wordpress.com/2008/05/13/lokalitas-budaya-lokal-dalam-desain-iklan/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/hannykardinata-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">hannykardinata</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cakram Seminar: Corporate and Destination Branding</title>
		<link>http://desaingrafisindonesia.wordpress.com/2008/05/12/cakram-seminar-corporate-and-destination-branding/</link>
		<comments>http://desaingrafisindonesia.wordpress.com/2008/05/12/cakram-seminar-corporate-and-destination-branding/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 May 2008 05:15:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hannykardinata</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[News]]></category>

		<category><![CDATA[Cakram]]></category>

		<category><![CDATA[Corporate and Destination Branding]]></category>

		<category><![CDATA[seminar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://desaingrafisindonesia.wordpress.com/?p=2688</guid>
		<description><![CDATA[
Posted by Gunawan Alif, Cakram Magazine.
•••
       ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/seminar-3.gif"><img src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/seminar-3.gif?w=600&h=800" alt="" width="600" height="800" class="alignnone size-full wp-image-2689" /></a></p>
<p><em>Posted by Gunawan Alif, Cakram Magazine.</em></p>
<p>•••</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2688/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2688/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2688/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2688/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2688/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2688/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2688/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2688/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2688/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2688/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2688/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2688/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=desaingrafisindonesia.wordpress.com&blog=853670&post=2688&subd=desaingrafisindonesia&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://desaingrafisindonesia.wordpress.com/2008/05/12/cakram-seminar-corporate-and-destination-branding/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/hannykardinata-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">hannykardinata</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/seminar-3.gif" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Patriarki dalam media promosi: Sebuah pendekatan semiotis tentang tampilan iklan dan kemasan celana dalam pria</title>
		<link>http://desaingrafisindonesia.wordpress.com/2008/05/12/patriarki-dalam-media-promosi-sebuah-pendekatan-semiotis-tentang-tampilan-iklan-dan-kemasan-celana-dalam-pria/</link>
		<comments>http://desaingrafisindonesia.wordpress.com/2008/05/12/patriarki-dalam-media-promosi-sebuah-pendekatan-semiotis-tentang-tampilan-iklan-dan-kemasan-celana-dalam-pria/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 May 2008 04:49:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hannykardinata</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Gabriela Bertie Alia]]></category>

		<category><![CDATA[Journal]]></category>

		<category><![CDATA[iklan]]></category>

		<category><![CDATA[kemasan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://desaingrafisindonesia.wordpress.com/?p=2665</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Gabriela Bertie Alia
PENDAHULUAN
Pakaian merupakan salah satu kebutuhan primer manusia sejak awal mula. Manusia purba mulai menggunakan pakaian sebagai pelindung kulit dan tubuh dari cuaca dan gangguan serangga. Seiring sistem kebudayaan yang mulai berkembang, kegunaan pakaian ditambah dengan fungsi sosial. Fungsi ini terlihat dari pakaian yang berfungsi sebagai penanda gender dan tingkat sosial dalam masyarakat. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Oleh Gabriela Bertie Alia</p>
<p>PENDAHULUAN<br />
Pakaian merupakan salah satu kebutuhan primer manusia sejak awal mula. Manusia purba mulai menggunakan pakaian sebagai pelindung kulit dan tubuh dari cuaca dan gangguan serangga. Seiring sistem kebudayaan yang mulai berkembang, kegunaan pakaian ditambah dengan fungsi sosial. Fungsi ini terlihat dari pakaian yang berfungsi sebagai penanda gender dan tingkat sosial dalam masyarakat. Dari pakaian yang terbuat dari kulit binatang hingga ditemukannya serat katun, pakaian dibuat dengan tangan. Setelah revolusi industri, pakaian mulai dibuat secara massal, berkat ditemukannya mesin pemintal dan mesin jahit. </p>
<p>Sejak industri pakaian mulai berkembang, produk pakaian jadi (<em>ready to wear</em>) sebagian besar dibuat untuk konsumen wanita. Fenomena ini disebabkan oleh tendensi peminat pakaian wanita jauh lebih banyak dari pada pakaian pria. Sebagian besar wanita menilai keberagaman pakaian sebagai kebutuhan, karena mereka tumbuh melihat figur ibu yang dituntut harus bersolek demi kedudukan dalam lingkaran sosial. (Lacan : 1997) Ditambah lagi perempuan mengganggap pakaian yang mereka kenakan merupakan penunjuk dari pribadi mereka (dan standar penilaian seorang pribadi). Menurut Jung, tingkah laku perempuan yang terlihat umumnya jauh lebih personal dari laki-laki. (Jung, 1996). Sehingga lelaki jarang membeli pakaian berdasarkan keinginan, melainkan kebutuhan, apalagi untuk pakaian dalam yang hanya terlihat oleh si pemakai. Kecenderungan ini sekarang telah bergeser. </p>
<p>Industri pakaian wanita berkembang dengan amat pesat, begitu pula dengan pakaian dalam wanita. Merek-merek eksklusif Eropa dan Amerika seperti La Senza, Marks &amp; Spencer dan Victoria Secret mulai  melebarkan sayap ke negara-negara Asia. Lain halnya dengan industri pakaian untuk lelaki. Hanya sebagian kecil produsen  yang tertarik untuk memproduksi pakaian pria, lebih sedikit lagi perancang busana yang berminat menggarap pakaian dalam pria. Berikut ini akan dipaparkan sekelumit sejarah pakaian dalam yang digunakan oleh kaum Adam. Kemudian akan dibahas desain kemasan pakaian dalam lelaki dewasa untuk memenangkan minat konsumen.</p>
<p><strong>Sejarah Pakaian Dalam Pria</strong></p>
<p>Lelaki Mesir sudah menggunakan baju dalam berbahan linen sejak 2000 SM. Berbentuk sederhana, dan digunakan untuk pakaian sehari-hari. Untuk acara resmi, mereka menambahkan kain linen berlipit yang dililit berbentuk rok. Sementara kaum bangsawan menambahkan jubah linen berlipit dan perhiasan. Begitu pentingnya pakaian dalam, sehingga tersedia beberapa cadangan dalam makam para Pharaoh. Lelaki Yunani kuno tidak menggunakan pakaian dalam, mereka mengenakan <em>chiton</em>, selembar kain wol tanpa jahitan yang dijepit dengan bros dari tulang/emas/perunggu yang disebut <em>fibulae</em>. Baru di atasnya mereka mengenakan jubah yang disebut <em>himation</em>. Bentuk pakaian dalam kuno yang paling mendekati pakaian dalam modern adalah <em>subligaculum</em> yang digunakan lelaki Romawi. Kata <em>subligaculum</em> berarti celana dan digunakan di bawah toga atau tunik. </p>
<p>Kegunaan baju dalam sebagai pelindung baru terlihat pada abad pertengahan. Sekitar abad ke-13 di Eropa, kaum lelaki mulai menggunakan celana longgar (<em>baggy drawers</em>) linen yang disebut <em>braies</em>. Celana dalam mulai popular pada masa ini, terutama digunakan oleh para ksatria sebagai pelindung kulit agar tidak lecet terkena baju zirah. <em>Braies</em> menggunakan teknik serut-ikat (<em>drawstring</em>) yang diikat dengan tali linen. Kaum bangsawan kaya menggunakan <em>chausses</em> di atas <em>braies</em>, celana sepanjang lutut yang dijahit sesuai dengan bentuk kaki.</p>
<p><em>Chausses</em> yang lebih ketat menyerupai stoking yang disebut <em>hose</em>, menjadi tren pada era Renaisans. Panjang celana ini biasanya tepat di bawah lutut dan diberi jahitan semacam ban. Bahan yang digunakan semakin beragam, beludru, sutra bahkan berhias bulu binatang untuk musim dingin. Pada abad ke-14 memanjang hingga tumit. Warna-warna <em>hose</em> yang digunakan semakin berani, bahkan pada abad ke-15 banyak digunakan mi parti, 2 warna yang kontras digunakan untuk masing-masing kaki. Terbukti saat itu pakaian dalam tidak hanya berguna sebagai pelindung dan penghangat kulit, tetapi juga memiliki fungsi estetis. </p>
<p>Pada era ini, <em>braies</em> juga didesain untuk kemudahan buang air kecil bagi pemakainya dengan menambahkan semacam bukaan berkancing pada bagian depan (sistim praktis yang masih digunakan hingga saat ini). “Bukaan” ini terkadang diberi sumpalan agar ukuran genitalia terlihat mengesankan. Tren memberi sumpalan mencapai puncaknya saat Raja Henry VIII dari Inggris turut mempraktikan. Penggunaan sumpalan mulai dilebih-lebihkan sehingga tidak tampak realistis lagi. Tren ini berakhir akhir abad ke-16. Sebagai gantinya “bukaan” ini dijadikan kantong. (Yarwood: 1977)</p>
<p>Pada Era Ratu Victoria, kaus dalam mulai digunakan. Secara keseluruhan, kaus dan celana dalam (<em>drawers</em>) dibuat dengan tangan dari bahan wol, katun atau sutra. Warna yang digunakan menjadi terbatas pada putih. Sedangkan di Amerika sebelum perang sipil, <em>drawers</em> terbuat dari wol flanel sepanjang lutut. </p>
<p>Revolusi industri memungkinkan pemintalan benang katun dengan mesin, sehingga pakaian dalam dapat diproduksi secara massal. Pada periode ini lelaki, wanita dan anak-anak dari berbagai kalangan dapat membeli pakaian dalam di toko. Sebagian besar menggunakan pakaian dalam (berbentuk terusan celana) yang disebut <em>union suits</em> yang memiliki bukaan berkancing di bagian belakang untuk memudahkan buang air. Sebutan stoking lelaki: “long john” didapat dari petinju Long John Sullivan yang terkenal pada tahun 1880an, beliau memakainya sebagai kostum tinju. Long john masih digunakan hingga kini dan mengalami evolusi material dari wol hingga lycra®.</p>
<p>Selepas abad ke-16, kolonialisme mulai marak di kalangan kerajaan Eropa. Selain rempah-rempah yang menjadi tujuan utama, mereka juga membawa varietas tumbuhan baru sebagai penemuan merambah dunia baru. Penemuan bahan karet di semenanjung Malaya amat penting dalam sejarah pakaian dalam. Bahan karet digunakan untuk berbagai macam produk, dari ketapel hingga ban hidup (berisi gas). Sifat mulur karet, membuat para inventor untuk mencoba menggunakan bahan baru ini sebagai pengencang baju dalam. Thomas Hancock (Inggris) mencampurnya dengan Sulfur dan memasukkannya dalam pintalan benang. Selain lebih mudah untuk ditenun, karet tersebut juga lebih tahan terhadap suhu panas dan dingin. Benang elastis ini berkembang terus sehingga ditemukan elastex, spandex (1959) dan lycra®. </p>
<p>Pada masa kolonialisme, lelaki Indonesia mulai menggunakan pakaian dalam yang amat sederhana pada masa perang dunia ke-2. Sebagian besar memakai katun kasar (blacu) yang diberi pemutih (blauw) dan direndam dalam larutan terigu lalu dijemur hingga kaku. Pada masa pendudukan Jepang bahan goni bekas karung digunakan dengan pencucian berkali-kali. Saat mencuci, goni dibanting-banting ke permukaan batu agar melembut. </p>
<p><strong>Perkembangan celana dalam pria di Indonesia seiring tren zaman</strong></p>
<p>Perekonomian dunia makin membaik pada era 80-an, para desainer seperti Calvin Klein, Tommy Hilfiger, JOCKEY mulai tertarik untuk  menggarap pasar pakaian dalam pria. Kemampuan daya beli masyarakat makin meninggi, memberi inspirasi mereka untuk membuat pakaian dalam yang tidak hanya nyaman, tetapi juga bergaya. Daya tarik utama dari pakaian dalam yang mereka produksi adalah seks. Inti dari promosi mereka adalah celana dalam yang memukau dilihat oleh pasangan dan menambah daya tarik seksual. Selaras dengan pemikiran Marx, yang menilai kapitalisme komoditi tidak hanya semata obyek utilitas, tetapi bergeser sebagai obyek yang memiliki nilai mistis tertentu. (Piliang: 2003). </p>
<p>Potongan dibuat semakin minim dan membuat genitalia terlihat semakin besar. Bentuk <em>bikini</em>, <em>thongs</em> dan <em>g-string</em> dibuat tidak hanya untuk wanita. Preferensi bentuk selain tergantung pada selera, juga tergantung pada iklim. Bentuk <em>drawers</em>, <em>boxer</em>, <em>long john</em> populer di daerah dengan 4 musim, yang notabene mengalami musim dingin bersuhu rendah. Sementara <em>brief</em>, <em>bikini</em>, <em>thongs</em> lebih popular di daerah beriklim tropis, seperti negara-negara di Amerika Selatan. </p>
<p>Produsen celana dalam pria di Indonesia juga mengikuti tren di Amerika dan Eropa. Sampai awal 80-an, hanya ada 3 merek baju dalam pria yang tersedia di pasaran Indonesia : HING’S, GT Man dan Swan. Kemasan dibuat sesederhana mungkin karena celana dalam dibeli karena kegunaannya sebagai pelindung genitalia dari celana pantalon yang pada umumnya berbahan berat. Lelaki bertendensi membeli barang yang diperlukannya semata, merek bukanlah pertimbangan. Celana dalam hanya dinilai sebagai obyek utilitas semata. Kaus dalam memiliki kegunaan sekunder agar tubuh tidak langsung terlihat di bawah kemeja berbahan agak transparan. </p>
<p>Akhir 80-an JOCKEY dan Rider membuka pabrik di Indonesia dan mulai memasarkan produknya untuk pasar lokal.  Munculnya merek-merek baru yang ditawarkan membuat pilihan tidak terbatas pada Swan atau HING’S semata. Para desainer dan produsen garmen  mulai berlomba menawarkan  produknya. Ada 2 manifestasi desain yang diterapkan para produsen untuk memberdayakan desainnya menurut Agus Sachari. Pertama: upaya untuk meningkatkan inovasi dan kedua, pengusangan produk dengan penawaran model/ varian baru. (Sachari : 2002)</p>
<p>Dengan demikian kemasan harus mengandung kedua unsur tersebut agar menarik pembeli. Peningkatan inovasi dapat ditonjolkan melalui pemakaian bahan yang semakin nyaman dan potongan yang makin beragam. Penggunaan bahan <em>stretch-cotton</em> dan penambahan label <em>“100% cotton”</em>, dinilai peningkatan inovasi yang dapat lebih menarik konsumen. Trik “pengusangan” produk lewat peluncuran varian “baru” (dalam hal ini kebaruan hanya dalam hal warna) biasanya  sudah memiliki target  kalangan tertentu. Sebagai contoh misalnya <em>boxer</em> dengan motif kamuflase (atau lebih populer di kalangan masyarakat Indonesia dengan motif “ABRI”) atau tokoh kartun tertentu yang ditujukan untuk kalangan remaja yang ingin menunjukkan <em>boxer</em> tersebut. Tren hip hop dan punk memaparkan penyanyi yang mengenakan celana di bawah garis pinggang, sehingga <em>boxer</em> tampak oleh orang lain. Fungsi sosial bergeser dari pakaian dalam yang tabu terlihat orang lain, menjadi pakaian dalam harus terlihat. </p>
<p><strong>Semiotika dalam iklan dan kemasan celana dalam pria</strong></p>
<p>Seperti yang telah dikemukakan di atas, ketiga produsen awal pakaian dalam pria di Indonesia adalah Swan, GT Man dan HING’S. Ketiga merek ini hanya menggunakan plastik bening dengan teknik sablon untuk mencetak merek mereka pada bagian bawah depan kemasan. Penggunaan plastik bening dimaksudkan agar produk terlihat jelas oleh calon konsumen. Celana dalam dilipat di atas sebentuk karton sehingga terlihat rapi dan kotak. Bentuk kemasan ini bersifat tanpa basa-basi (<em>straight-forward</em>) menunjukkan fungsi celana dalam semata. Gaya ini tidak berubah sampai kompetitor-kompetitor lain mulai memproduksi dan melempar produknya ke pasar. Masih seperti HING’S dan Swan, kemasan produk JOCKEY juga menggunakan plastik bening dan dilipat meliputi karton. Mulai tahun 90-an JOCKEY menjual celana dalam berbentuk paket yang berisi 3 pasang yang digulung. Semula kotak paket tersebut hanya menggunakan mika, sehingga isi dapat langsung terlihat. Kemudian seiring dengan muncul kompetitor lain, mulai ditambahkan foto pada kemasan berbahan <em>art carton</em>.</p>
<p>Sebelum era kaum wanita Indonesia berkarir di luar rumah, merekalah yang wajib membeli pakaian dalam bagi suami dan anak mereka. Jarang sekali lelaki dewasa membeli pakaian dalamnya di pasar atau toko kelontong. Hal ini membuat para produsen tidak mementingkan persepsi kaum lelaki akan produknya. Sehingga iklan  dan penggarapan desain kemasan dianggap tidak perlu. Apalagi penggarapan desain kemasan untuk dilihat kaum pria sebagai pemakai.</p>
<p>Lain halnya dengan masyarakat perkotaan dewasa ini. Mayoritas lelaki dewasa  mulai membeli pakaian dalamnya sendiri. Sehingga persepsi mereka sebagai pembeli dan pemakai berarti amat besar. Masyarakat urban, baik lelaki maupun wanita, membeli suatu produk dengan berbagai pertimbangan. Faktor iklan dan kemasan adalah pertimbangan yang besar. Dalam hal ini kemasan tidak hanya berfungsi sebagai pembungkus, tetapi juga sebagai iklan dari produk tersebut.</p>
<p>Menurut Yasraf Amir Piliang, unsur semiotika yang selalu tampak dalam iklan memiliki 3 unsur yaitu : obyek, konteks dan teks. </p>
<p><strong>Obyek</strong> dalam hal ini berarti produk yang diiklankan. Dalam hal iklan dan kemasan celana dalam pria, obyek selalu mengambil entitas berupa visual. Obyek juga memiliki fungi sebagai elemen penanda yang mewakili produk. Dalam setiap iklan, celana dalam pria sebagai sang obyek <strong>selalu</strong> ditampilkan dengan jelas. Jika perlu secara mendetil sehingga bahan yang empuk dan jahitan yang rapi dapat terlihat. Penampakan produk wajib hukumnya, karena kaum lelaki harus melihat secara jelas produk yang akan dibeli. Jarang iklan produk untuk lelaki yang hanya menampilkan citra atau gaya hidup belaka. Masih terlihat gaya tanpa basi-basi dari kemasan celana dalam pria sejak dekade 70-an. Dalam hal ini seluruh kemasan, seluruh merek pakaian dalam memampang produk. </p>
<p>Unsur yang kedua adalah <strong>konteks</strong>. Dalam iklan celana dalam untuk pria, konteks mengambil bentuk berupa penanda pemberi makna pada obyek. </p>
<p>Hasrat narsistik aktif, di mana seseorang berhasrat untuk menjadi orang lain. Dalam hal ini calon pembeli mengidentifikasikan dirinya dengan model yang terlihat di iklan dan kemasan. Selanjutnya Lacan mengemukakan ego yang mengidentifikasikan dirinya secara imajiner dengan orang lain. </p>
<p>Pengidentifikasian diri lewat orang lain membuat pemilihan badan model yang maskulin dan sehat bin sempurna. Badan model yang dipilih tidak memiliki lemak. Keenam otot perut benar-benar terlihat sepenuhnya, menunjukkan model yang sehat dan rajin berolahraga. Kesempurnaan fisik yang lain menurut masyarakat era ini adalah unsur “muda” yang terlihat dari kulit yang masih kencang. Bagian genitalia yang disumpal membuat ukurannya terlihat besar (seperti tren yang dipopulerkan Raja Henry VIII dari Inggris). Hal ini juga disebabkan kebiasaan pebalet pria yang menyumpal legging agar bentuk genitalia tidak jelas terlihat agar tidak saru. </p>
<p>Kesempurnaan tubuh juga dipengaruhi oleh warna kulit. Bagi masyarakat yang terpesona oleh kulit yang terbakar matahari, maka dipilih model yang memiliki warna kulit kecoklatan (<em>tanned skin</em>). Sedangkan bagi masyarakat Indonesia yang selama dekade terakhir ini terobsesi dengan kulit yang putih, dipilihlah model kaukasia berkulit putih. </p>
<p>Unsur ketiga adalah <strong>teks</strong> yang memperkuat makna (<em>anchoring</em>). Berbentuk tulisan. Untuk iklan dan kemasan celana dalam, makna yang perlu diperkuat adalah penyampai pesan tersebut, yaitu merek produsen. Merk memiliki fungsi sebagai penanda strata sosial. Sehingga harus dipasang di kemasan luar dan di produk. Beberapa merek bahkan memasang namanya berulang-ulang pada elastik celana. Menampilkan elastik yang memiliki merek “bergengsi” menjadi tren tersendiri di kalangan lelaki muda bergaya <em>hip-hop</em>. </p>
<p>Berikut ini contoh kemasan celana dalam pria yang memiliki ketiga unsur tersebut:</p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/patriarki-11.gif"><img src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/patriarki-11.gif?w=293&h=339" alt="" width="293" height="339" class="alignnone size-full wp-image-2687" /></a></p>
<p><em>(gambar 1. Kemasan celana dalam bermerek GT Men)</em> </p>
<p>Dalam gambar di atas, terlihat obyek berupa celana dalam terlihat dengan jelas. Konteks ditunjukkan dengan badan model yang atletis. Nuansa hitam putih yang digunakan bermaksud memberi kesan eksklusif dan menambah kesan maskulin. Sedangkan teks tampak lewat merek. Peningkatan inovasi juga tampil dengan logo “US Cotton”. </p>
<p>Kemasan dan iklan pakaian dalam pria juga memiliki kode sosial dan kode komoditi. Menurut Eco (1976), bahasa tubuh dan orientasi fisik berperan penting dalam membentuk persepsi pemirsa (kode sosial). Sementara <em>fashion</em> sendiri merupakan kode komoditi. Kode-kode  ini juga dapat terlihat dalam contoh gambar di atas. </p>
<p><strong>Mengapa model yang digunakan tidak bermuka?</strong></p>
<p>Hal yang menarik dari iklan dan kemasan  baju dalam pria adalah pemotongan foto dari model yang menghilangkan sebagian/keseluruhan muka mereka. Penulis meninjau rak beberapa toserba dan pasar yang menjual pakaian dalam pria. Sebagai contoh toserba Matahari memajang 12 merek, hanya 3 yang menunjukkan muka model. Hal ini berlaku bagi merek produksi Matahari group sendiri (Cole) dan merek-merek lain. Berikut ini 2 contoh kemasan celana dalam pria dari merek yang berbeda. </p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/patriarki-2.gif"><img src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/patriarki-2.gif?w=170&h=325" alt="" width="170" height="325" class="alignnone size-full wp-image-2679" /></a></p>
<p><em>(gambar 2. Contoh kemasan merek lokal dari Matahari grup)</em></p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/patriarki-3.gif"><img src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/patriarki-3.gif?w=170&h=298" alt="" width="170" height="298" class="alignnone size-full wp-image-2680" /></a></p>
<p><em>(gambar 3. Contoh kemasan merek luar yang sudah diproduksi di Indonesia)</em></p>
<p>Kecenderungan ini tidak hanya terjadi di Indonesia saja, tetapi juga berlaku untuk situs belanja pakaian dalam pria internasional. Berikut ini 1 contoh kemasan pakaian dalam dari situs toserba waralaba Debenhams dari Inggris. </p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/patriarki-4.gif"><img src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/patriarki-4.gif?w=293&h=326" alt="" width="293" height="326" class="alignnone size-full wp-image-2681" /></a></p>
<p><em>(gambar 4. Contoh kemasan pakaian dalam yang dijual di www.debenhams.co.uk)</em></p>
<p>Untuk situs, seperti barenecessties.com (Amerika Serikat) dan topdrawers.co.uk (Inggris). Berbagai merek, harga, model ditawarkan oleh kedua situs ini. Pembeli dapat langsung memesan dan produk yang dipilih akan dikirim setelah pembayaran lewat kartu kredit diterima. Dalam kedua situs ini, penampilan wajah model juga dipotong. Bahkan untuk kaus dalam pria, muka model mengalami pemangkasan juga. Berikut contoh dari kedua situs tersebut. </p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/patriarki-5.gif"><img src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/patriarki-5.gif?w=475&h=296" alt="" width="475" height="296" class="alignnone size-full wp-image-2682" /></a></p>
<p><em>(gambar 5. Contoh dari www.bareneccesities.com)</em></p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/patriarki-6.gif"><img src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/patriarki-6.gif?w=475&h=297" alt="" width="475" height="297" class="alignnone size-full wp-image-2683" /></a></p>
<p><em>(gambar 6. Contoh dari www.topdrawers.co.uk)</em></p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/patriarki-7.gif"><img src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/patriarki-7.gif?w=475&h=374" alt="" width="475" height="374" class="alignnone size-full wp-image-2684" /></a></p>
<p><em>(gambar 7. Contoh dari www.topdrawers.co.uk )</em></p>
<p>Untuk situs yang lebih eksklusif, model bermuka hanya digunakan dalam header. Sebagai contoh di sini situs dari Armani Exchange, lini sekunder dari rumah mode Armani. </p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/patriarki-8.gif"><img src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/patriarki-8.gif?w=475&h=295" alt="" width="475" height="295" class="alignnone size-full wp-image-2685" /></a></p>
<p><em>(gambar 8. Contoh halaman dari situs www.armaniexchange.com)</em></p>
<p>Ada tiga kemungkinan alasan yang akan dicoba penulis untuk menjelaskan isu ini. </p>
<p>Teori dari Jacques Lacan bahwa anak laki-laki yang dibesarkan dalam tatanan hidup patriarkal akan berusaha menjadi <em>Phallus</em>. Dalam pengertian Lacan, <em>Phallus</em> tidak berarti penis, melainkan “pusat” yang mengatur seluruh struktur. Disebabkan oleh tatanan hidup patriarkal, maka manusia yang memiliki penis dianggap sebagai pemilik “pusat” tersebut.<br />
Keberadaan wajah yang lain (di atas torso model) membuat pembeli tidak menjadi pusat lagi. Keberadaan “saingan” berupa model yang memiliki muka harus dihilangkan. </p>
<p>Menurut penulis, wajah adalah hal utama bagi pengidentifikasian sebuah ego. Penghapusan bagian kepala membuat sebuah “ego” menjadi lenyap dan hanya menjadi obyek semata. Begitu pentingnya kepala, sehingga patung-patung raksasa di Pulau Paskah yang memiliki anatomi kepala sepanjang badan. Contoh lain adalah patung-patung di Papua yang mengetengahkan perbandingan anatomi yang serupa. Pemenggalan kepala  dalam mitos cara paling manjur membunuh drakula adalah contoh yang lain. (Eksekusi untuk kejahatan berat lewat tradisi memenggal kepala dengan guillotine di Perancis?) </p>
<p>Pentingnya anggota tubuh yang ini membuat eliminasinya penting juga. Pengambilan/pemotongan kepala merampok personifikasi dari iklan dan kemasan celana dalam pria tersebut. Sehingga jika keberadaan wajah sang model tidak dapat membentuk suatu “persaingan”. Kemudian  calon pembeli dapat menjadi alpha-male (lelaki utama dalam kelompoknya) dan menjadi penentu kembali. </p>
<p>Alasan lain yang menjadikan “perampokan personifikasi” ini adalah homofobia. Preferensi seksual ini bernilai amat negatif dalam pandangan masyarakat Indonesia pada umumnya. Beberapa wawancara informal dengan  lelaki  Indonesia urban dewasa merasa risih dan jijik jika melihat model/foto lelaki berpakaian minim. Mereka juga menganggap hal tersebut hanya menarik bagi kaum homoseksual, dan merasa takut disangka homo jika menyukainya. Ketakutan ini berlaku juga saat memilih kemasan/ produk pakaian dalam. </p>
<p>Kebiasaan yang berbeda berlaku untuk iklan cetak  di Eropa dan Amerika. Unsur selebritas dapat dijual sebagai nilai jual yang unik. Terutama selebriti yang memiliki  prestasi dalam olahraga atau musik. David Beckham, mantan kapten sepak bola Inggris dikontrak jutaan dollar Amerika agar menjadi model utama untuk baju dalam Armani. Mark Walberg yang sempat terkenal sebagai pemusik rap pada paruh awal 90-an dipilih oleh perancang busana Calvin Klein untuk menjadi model utama. Walberg, terkenal gemar memelorotkan celana saat pentas. Aksi ini amat digilai para penonton Walberg karena boxer dan otot-otot perutnya terpampang jelas. Menurut Klein, “keunikan aksi” Walberg ini akan mendorong penjualan produk baju dalam prianya. Pendapat Klein terbukti benar, iklan cetak berseri yang menggunakan Walberg  mendongkrak penjualan pakaian dalam  Klein. Hingga Klein memutuskan memasangkan Walberg dengan Kate Moss model dari Inggris untuk mengentalkan unsur seksi. </p>
<p>Kedua contoh ini dipilih karena mereka memiliki tubuh yang sehat dan otot yang terbentuk bagaikan patung David oleh Michaelangelo. Alasan kedua adalah muka tampan mereka. Walberg memiliki muka tipikal pria amerika yang gagah, sementara Beckham tidak kalah tampan menurut selera warga belahan bumi Utara. (Hal ini juga yang menyebabkan rumah mode Armani tidak memilih Ronaldinho yang notabene lebih popular sebagai pemain sepak bola ketimbang Beckham) Sebab yang lain karena kedua selebritis ini  sudah terkenal sebagai lelaki heteroseksual. Mereka berdua dapat menampilkan kesan amat maskulin, meskipun memperhatikan penampilan. Walberg terkenal sebagai <em>playboy</em> yang berangasan dan tidak sungkan berkelahi. Sementara Beckham memiliki istri dan anak-anak, dengan kata lain sebagai seorang ayah teladan. Penggunaan selebritis sebagai model tidak umum di Indonesia. Hal ini disebabkan karena homofobia (selebriti lelaki Indonesia merasa  takut nama baiknya akan tercemar karena disangka homo) dan memajang lelaki berpakaian minim di depan umum masih dianggap tabu. </p>
<p> <a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/patriarki-9.gif"><img src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/05/patriarki-9.gif?w=293&h=410" alt="" width="293" height="410" class="alignnone size-full wp-image-2686" /></a></p>
<p><em>(gambar 9.  iklan cetak brief Calvin Klein)</em> </p>
<p><strong>webliografi</strong><br />
http://www.armaniexchange.com terakhir diakses 27 November 2007, pukul 12.54<br />
http://www.debenhams.co.uk terakhir diakses 16 November 2007, pukul 15.52<br />
http://www.bareneccesities.com terakhir diakses 16 November 2007, pukul 15.54<br />
http://www.topdrawers.co.uk terakhir diakses 16 November 2007, pukul 15.55<br />
http://www.wyzman.com terakhir diakses 13 November 2007, pukul 14.24</p>
<p><strong>Daftar Pustaka</strong></p>
<p>Bracher, Mark, Jacques Lacan, Diskursus, dan Perubahan Sosial: Pengantar Kritik-budaya Psikoanalitis, (1997), Penerbit Jalasutra, Yogyakarta.<br />
Chandler, Daniel, Semiotics: The Basics, (2002), Routledge, New York.<br />
Piliang, Yasraf Amir, HIPERSEMIOTIKA: Tafsir Cultural Studies Atas Matinya Makna, (2003), Penerbit Jalasutra, Yogyakarta.<br />
Sachari, Agus, ESTETIKA : Makna, Simbol dan Daya, (2002), Penerbit ITB, Bandung.<br />
Yarwood, Doreen, The Encyclopaedia of World Costume, (1978), The Anchor Press, London.</p>
<p>•••</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2665/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2665/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2665/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2665/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2665/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2665/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2665/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2665/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2665/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2665/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2665/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/desaingrafisindonesia.wordpress.com/2665/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=desaingrafisindonesia.wordpress.com&blog=853670&post=2665&subd=desaingrafisindonesia&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://desaingrafisindonesia.wordpress.com/20